Kasubbagpinev Bagpenum Ropenmas Divhumas Polri, AKBP Rachmat Sumekar : Apa Itu Era Society 5.0, Ini Penjelasannya

(Kanan) Kasubbagpinev Bagpenum Ropenmas Divhumas Polri, AKBP Rachmat Sumekar, saat memberikan piagam penghargaan kepada Pemred POV Indonesia atas terselenggaranya Workshop Jurnalistik, pada Senin (04/12/23).

HUKUM, BogorOnline.com – Kasubbagpinev Bagpenum Ropenmas Divhumas Polri, AKBP Rachmat Sumekar menjelaskan, maksud dari society 5.0 yang diusung oleh jajaran media POV Indonesia dalam giat Workshop Jurnalistik yakni, konsep dimana manusia difasilitasi ilmu pengetahuan berbasis modern (Al, Robot, Lot) untuk membantu memenuhi kebutuhan yang memudahkan agar dapat hidup dengan nyaman.

Menurutnya, jurnalistik di Society 5.0 ditandai oleh pemanfaatan teknologi digital dan multimedia secara luas, jurnalis menggunakan platform online, media sosial, podcast, video, dan interaktif multimedia untuk menyediakan berita secara lebih menarik dan beragam.

“Maka, Mabes Polri saat ini terus berkolaborasi dengan jurnalis Milenial dalam menciptakan pesan damai menjelang pemilu 2024,” kata AKBP Rachmat Sumekar, saat memberi pemaparan kepada puluhan peserta workshop jurnalistik yang digagas oleh media POV Indonesia, bertempat di auditorium Villa Tjokro III Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor, Senin (04/12/23).

Sementara, masih kata AKBP Rachmat, perbedaan Industri 4.0 dan Society 5.0 bahwa industri 4.0 berfokus pada pengembangan industri untuk menggunakan teknologi guna mempermudah kehidupan masyarakat, sedangkan Society 5.0 berfokus pada penggunaan teknologi namun tetap mengandalkan manusia sebagai pemeran utamanya.

Selain itu, lanjutnya, didalam Society 5.0 tidak semua teknologi dapat menggantikan peran manusia. Dalam jurnalistik, peran wartawan sebagai watchdog (Kontrol Sosial Tidak Dapat Digantikan ole Teknologi, makanya dari itu era saat ini tidak sedikit jurnalis muda yang kehilangan daya kritis karena terlalu bergantung pada teknologi

“Oleh karena itu, di era Society 5.0 peran jurnalis harus lebih besar, sedangkan teknologi hanya bersifat sebagai medium pembantu,” jelasnya.

Lebih lanjut ia memaparkan, era ini juga bila perusahaan media sudah tidak lagi bersaing namun berkolaborasi untuk berjejaring. Dalam hal ini, tentu media harus mampu memobilisasi dan menyelaraskan informasi dengan bertanggung jawab dan inovatif.

Saat ini juga, kata AKBP Rachmat, menjelang pemilu, hal ini bisa dimanfaatkan untuk diseminasi informasi untuk mendukung pemilu damai. Serta, peran jurnalis muda harus bisa menyajikan data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan dalam rangka memerangi hoax, media pun harus juga bisa membentuk opini publik oleh karenanya itu harus menggunakan narasi yang objektif dan faktual untuk menghindari polarisasi.

“Menyajikan konten yang bersifat edukatif mengenai pemilu yang damai kepada audiens, memberikan edukasi kepada masyarakat tentang politik. Dan, media harus metal dalam pemilu seperti dalam penyajian pemberitaannya yang disajikan kepada masyarakat Indonesia khususnya,” tandas pria mantan Kapolres Sinjai, Polda Sulsel.

Diketahui sebelumnya, Media POV Indonesia yang dibawah pimpinan Wido Yutrusno Cs adakan pelatihan jurnalistik bagi kaum millenial yang diantaranya dari Sekolah Tinggi Ilmu Tinggi Ilmu Hukum dan Politik (STHIP) Pelopor Bangsa, yang berlangsung di Auditorium Villa Tjokro, Cisarua, Kabupaten Bogor, Senin (04/12/23).

ARTIKEL REKOMENDASI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *