Manfaat Jawer Kotok Atau Miana

Jawer kotok merupakan tanaman hias yang tumbuh menyemak dan memiliki banyak varietas. Salah satu varietas yang cukup terkenal sebagai tanaman hias adalah miana. Keindahan tanaman ini terletak pada sosok daunnya yang berbentuk unik dan beberapa varietas mempunyai perpaduan warna yang indah.

Manfaat jawer kotok tidak sekadar untuk menghiasi pekarangan, tetapi juga bisa digunakan pada dunia kesehatan. Pada dasarnya, jawer kotok memang sudah terkenal juga sebagai tanaman obat yang dapat digunakan untuk menyembuhkan beberapa penyakit. Tak heran, banyak masyarakat Indonesia yang memelihara tanaman ini sebagai tanaman hias sekaligus tanaman obat, meskipun umurnya tidak panjang. Apalagi harga tanaman ini tidak begitu mahal, jawer kotok yang masih kecil dibanderol seharga Rp30.000-an.

Sosok tanaman jawer kotok dapat tumbuh hingga setinggi 2 cm dan mengeluarkan cabang yang cukup banyak. Jawer kotok yang dipelihara sebagai tanaman hias perlu dipangkas secara rutin agar bentuknya tetap menarik. Tanaman ini dapat dipelihara langsung di lahan atau di pot berbentuk unik.

Namun, sayangnya jawer kotok berdaun unik dan memiliki variasi warna lebih cenderung tidak memiliki khasiat obat.
Daun jawer kotok mengandung zat alkaloida, minyak terbang, mineral, dan zat pati. Tanaman hias ini dapat digunakan untuk mengobati radang anak telinga, keputihan, dan wasir.

Artikel Mahasiswi Institut Pertabian Bogor (IPB) mencatat, Tanaman jawer kotok mengandung saponin, flavonoid, alkaloid, polifenol, kuersetin, dan minyak atsiri. Daun jawer kotok banyak digunakan sebagai bahan pengobatan, namun belum didukung oleh informasi penelitian mengenai teknik budidaya yang tepat untuk meningkatkan senyawa metabolit sekundernya.

Selain itu, belum terdapat informasi yang jelas mengenai posisi daun maupun fase pertumbuhan terbaik untuk menghasilkan senyawa bioaktif pada tanaman jawer kotok. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Mei 2018 sampai Januari 2019 di lapangan Kebun percobaan Cikabayan IPB, Dramaga, Bogor. Percobaan 1 bertujuan menentukan posisi daun ke-1 sampai 4 pada fase vegetatif dan generatif yang menghasilkan metabolit sekunder tertinggi (karotenoid, antosianin, dan flavonoid) dan untuk menentukan korelasi antara kandungan metabolit sekunder dengan kadar hara (NPK) dari setiap posisi daun.

Data hasil kadar NPK daun dan senyawa bioaktif daun pada setiap posisi daun dan fase pertumbuhan dibandingkan dengan menggunakan uji t-student serta dilakukan uji korelasi antar kadar NPK daun dengan senyawa bioaktif yang terkandung. Percobaan 2 bertujuan mengetahui pengaruh jenis atau dosis pupuk kandang sapi, ayam, kambing, dan campuran ketiganya terhadap produksi total flavonoid jawer kotok, serta mengetahui pengaruh interaksi jenis dan dosis pupuk kandang sapi, ayam, kambing, dan campuran ketiganya dalam produksi total flavonoid daun jawer kotok. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Kelompok Lengkap Teracak dengan dua faktor. Faktor pertama adalah empat jenis pupuk kandang (pupuk kandang sapi, pupuk kandang ayam, pupuk kandang kambing dan pupuk kandang campuran sapi, ayam, dan kambing 3:2:1 v/v/v). Faktor kedua, yaitu pemberian dosis pupuk kandang yang terdiri dari empat taraf (0, 5, 10, dan 15 ton ha-1).

Hasil percobaan 1 menunjukkan bahwa tanaman pada fase vegetatif memiliki kadar karotenoid, kadar antosianin, dan kandungan total flavonoid yang lebih tinggi daripada fase generatif. Daun ke-2 merupakan daun indikator yang kadar N, K berkorelasi positif dengan pigmen dan kandungan total flavonoid pada fase vegetatif. Percobaan 2, posisi daun ke-3 sebagai daun indikator dan memiliki korelasi lebih tinggi daripada daun posisi ke-2 di percobaan 1. Oleh karena itu, daun indikator dapat berasal dari posisi daun ke-2 atau daun ke-3. Hasil percobaan 2 menunjukkan jenis pupuk kandang tidak memberikan pengaruh nyata terhadap produksi total flavonoid, sedangkan dosis pupuk kandang memberikan pengaruh nyata terhadap produksi total flavonoid. Jika tanaman jawer kotok dipanen satu kali, cukup diberikan dosis pupuk kandang 5 ton ha-1 dan jika dipanen dua kali perlu diberikan dosis pupuk kandang 10 ton ha-1. Tidak terdapat pengaruh interaksi antara jenis dan dosis pupuk kandang terhadap produksi total flavonoid.

Foto : Fairel

ARTIKEL REKOMENDASI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *