Pedagang Pasar Asem Bogor Terintimidasi Preman, Relokasi ke Pasar Mawar Terancam Gagal

BOGORONLINE.com – Suasana memanas hampir berubah menjadi bentrok antara pedagang Pasar Asem dengan sekelompok preman pada Sabtu (5/9/2024) dini hari. Insiden ini terjadi di kawasan Jalan Merdeka, Kota Bogor, ketika sekelompok preman memaksa pedagang untuk tetap berjualan di Pasar Asem dan menolak relokasi ke Pasar Mawar yang telah ditetapkan pemerintah.

Keributan tersebut dipicu oleh kedatangan para preman yang berusaha mengintimidasi para pedagang. Mereka memaksa agar pedagang tidak pindah ke lokasi baru di Pasar Mawar, meskipun relokasi sudah berjalan. Aksi intimidasi ini memicu ketegangan antara preman dan pedagang, yang nyaris berujung pada bentrokan. Rekaman video kejadian tersebut bahkan sempat beredar di berbagai grup WhatsApp.

Kapolsek Bogor Tengah, Kompol Agustinus Manurung, mengonfirmasi adanya laporan terkait potensi bentrok di kawasan Pasar Asem.

“Kami menerima laporan dari masyarakat sekitar pukul 03.00 WIB mengenai sekelompok orang yang diduga akan terlibat tawuran di depan Restoran Bajawa, Pasar Asem,” ujar Agustinus.

Petugas dari Polsek Bogor Tengah bersama Tim Kujang Polresta Bogor Kota segera tiba di lokasi dan membubarkan sekitar 10 orang yang terlibat dalam perdebatan tersebut. Setelahnya, aparat melakukan penjagaan di sepanjang Jalan Merdeka untuk menghindari bentrok lebih lanjut.

Dari hasil pemeriksaan awal, polisi mendapatkan keterangan bahwa perselisihan dipicu oleh adanya ajakan dari enam orang yang mendesak pedagang untuk pindah ke Pasar Mawar, sementara beberapa pedagang menolak untuk direlokasi. Namun, keterangan tersebut ditentang oleh para pedagang dan warga setempat.

Menurut Hasan Alhabsy, salah satu warga di sekitar Pasar Asem, mayoritas pedagang sebenarnya mendukung relokasi ke Pasar Mawar. Bahkan, sebagian besar dari mereka telah memulai aktivitas berjualan di tempat baru tersebut. Namun, para pedagang sering kali mendapat intimidasi dari preman agar tetap berjualan di Pasar Asem.

“Sudah banyak pedagang yang pindah ke Pasar Mawar, tapi masih ada intimidasi dari para preman agar kami kembali berjualan di Pasar Asem,” ujar Hasan. Ia juga menyoroti tindakan pencopotan plang larangan berjualan di area trotoar dan fasilitas umum di Pasar Asem yang dilakukan oleh pihak tidak dikenal. Hasan meminta aparat penegak hukum untuk segera bertindak tegas terhadap perusakan tersebut.

Hasan mendesak Kapolresta Bogor Kota, Kombes Bismo Teguh Prakoso, untuk turun langsung ke lapangan dan melihat sendiri situasi yang dihadapi para pedagang. Ia menekankan bahwa meskipun sudah ada penangkapan terhadap lima preman, intimidasi terhadap pedagang tetap berlanjut.

“Jika preman-preman ini tidak segera diberantas, kami khawatir akan ada perlawanan dari pedagang dan warga sekitar,” ungkap Hasan.

Ia juga mengusulkan agar dibangun Pos Terpadu di dua lokasi, yaitu di Pasar Asem dan Pasar Mawar, untuk mengantisipasi terjadinya aksi premanisme. Pos ini, kata Hasan, sebaiknya melibatkan aparat gabungan dari TNI, Polri, dan Satpol PP untuk memastikan keamanan dan mencegah pedagang kembali berjualan di trotoar dan fasilitas umum di bawah tekanan para preman.

Sementara itu, salah satu pedagang yang enggan disebutkan namanya, menyampaikan harapannya agar pihak kepolisian hadir di Pasar Mawar untuk memberikan rasa aman. Ia mengaku sering kali dimintai uang keamanan oleh para preman dan kini kembali mendapat intimidasi agar mau kembali berjualan di Pasar Asem.

“Kami setuju direlokasi karena lokasinya juga tidak jauh dari tempat jualan kami sebelumnya. Tapi kami terus diintimidasi agar kembali ke Pasar Asem, padahal di sana sudah dilarang berjualan,” katanya.

Situasi ini memperlihatkan bagaimana relokasi yang seharusnya membawa perbaikan justru terhambat oleh ancaman dan aksi premanisme yang menambah tekanan bagi para pedagang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *