bogorOnline.com-NASIONAL
Satu momen dalam sejarah modern ketika pendidikan berhenti menjadi “jalan pembebasan”, dan pelan-pelan malah berubah jadi teknik penjinakan. Perubahan itu tidak berlangsung secara kebetulan, melainkan didesain sedemikian rupa.
Pada awal abad ke-20, ketika industri membutuhkan tenaga kerja yang patuh, tepat waktu, dan tidak banyak bertanya, lahirlah gagasan bahwa sekolah harus menghasilkan manusia yang “siap pakai.” Di titik inilah filantropi bertopeng kemajuan mulai bekerja.
Secara filosofis, John D. Rockefeller memang tidak turut menciptakan sekolah, tetapi ia ikut serta membentuk wataknya melalui General Education Board yang didanai jutaan dolar guna mereformasi dunia pendidikan. Penasihatnya, Frederick T. Gates, menyatakan bahwa tujuannya adalah menciptakan pekerja yang efisien, bukan pemikir independen.
Dana besar digelontorkan bukan untuk menggembleng manusia supaya merdeka, melainkan manusia yang sesuai kebutuhan sistem industri. Maka pendidikan tidak lagi bertanya tentang makna hidup, tetapi tentang efisiensi. Bukan tentang kebijaksanaan, tetapi tentang keterampilan yang bisa dijual. Sekolah pun menjadi ruang transisi dari manusia utuh, menjadi sekadar fungsi ekonomi belaka.
Dalam logika semacam ini, pertanyaan filosofis jelas merupakan gangguan. Keraguan eksistensial adalah pemborosan waktu. Mereka tak butuh manusia yang mencari kebenaran, tapi individu yang bisa mengikuti instruksi, menghormati hierarki, dan bekerja dalam ritme mesin. Maka kurikulum pun disusun seperti jalur produksi yang seragam, terstandarisasi, dan mudah diawasi. Jiwa anak didik diperlakukan seperti bahan mentah yang harus dibentuk, bukan misteri yang harus ditemani.
Model pendidikan semacam ini memang tidak jahat secara kasat mata. Ia rapi, terukur, dan tampak rasional. Namun, justru di situlah bahayanya. Ia tidak “membunuh” dengan kekerasan, melainkan dengan kebiasaan. Anak-anak belajar duduk diam berjam-jam, bukan untuk merenung, tetapi untuk taat. Baca juga: Masa Depan Karier Lulusan dalam Bayang-bayang Kesejahteraan Dosen PTS.
Mereka diajari menjawab, bukan bertanya. Lulus bukan karena mengerti, tetapi karena patuh pada format yang telah ditentukan.
Dulu, filsafat pernah menjadi jantung pendidikan. Plato berbicara tentang paideia sebagai pembentukan jiwa. Tradisi Islam menjadikan ilmu sebagai jalan mendekat kepada Tuhan. Namun, dalam pendidikan industri, jiwa adalah variabel yang tidak relevan. Mereka menghitung hasil, yang berupa nilai, sertifikat, dan tentu saja produktivitas. Maka ijazah alhasil menggantikan hikmah, dan keberhasilan diukur bukan dari kedalaman, melainkan dari kesesuaian. Pendidikan, dalam kerangka ini, adalah investasi sosial demi menjaga stabilitas ekonomi.
Sekolah menjadi alat reproduksi sistem, bukan ruang kritik terhadapnya. Kita bisa melihat akibatnya hingga hari ini. Banyak manusia dewasa yang cakap secara teknis, tetapi miskin orientasi hidup. Mereka tahu cara bekerja, cakap dengan keahliannya, tetapi tidak tahu mengapa hidup di dunia. Mereka patuh pada sistem yang menyiksanya, dan kemudian merasa bersalah ketika gagal menyesuaikan diri. Kegelisahan eksistensial dianggap gangguan psikologis, bukan tanda jiwa yang masih menggeliat.
Esai ini bukan nostalgia romantik tentang masa lalu, melainkan seruan untuk menyadari bahwa pendidikan sejatinya selalu politis. Ia bukan hanya membentuk kemampuan, tetapi cara kita memandang dunia. Ketika pendidikan dibiayai dan diarahkan oleh kepentingan kekuasaan ekonomi, ia akan cenderung “mencetak” manusia yang aman bagi sistem, bukan manusia yang jujur pada nuraninya. Tanpa perlu dijelaskan, gambaran itu sudah cukup menjadi cermin.
Ia memantulkan wajah pendidikan modern yang telah terlalu lama kita terima sebagai keniscayaan. Pertanyaannya bukan apakah kita membenci sekolah, melainkan apakah kita masih berani membayangkan bentuk pendidikan yang lain? Pendidikan yang tidak takut pada pertanyaan, tidak alergi pada kegelisahan, dan tidak menjadikan manusia sekadar roda dalam mesin sejarah. Sebab di titik ketika pendidikan sepenuhnya berhasil menurut ukuran sistem, di sanalah kemanusiaan mulai mati suri. Ironisnya, sekolah modern tidak (belum) runtuh.
Malah justru berdiri semakin megah, semakin canggih, semakin penuh jargon. Namun, seperti pohon yang disuntik pupuk kimia berlebihan, ia tinggi tanpa akar yang kuat, rimbun tanpa buah. Di sinilah kegagalan itu bekerja. Bukan kegagalan administratif, melainkan kegagalan tumbuh sebagai ruang pematangan manusia. Secara global, sekolah hari ini senyatanya berada dalam paradoks. Di satu sisi, dunia berbicara tentang berpikir kritis, kreativitas, dan keahlian abad-21. Di sisi lain, ruang kelas justru semakin dikendalikan oleh standar, tes, dan algoritma.(rul)
Sumber:https://www.kompas.com/edu/read/2026/01/08/152355071/sekolah-kita-yang-gagal-tumbuh





