BOGORONLINE.com – Kelurahan Tegallega, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, menyoroti sejumlah persoalan wilayah mulai dari dugaan banyaknya rumah kost tanpa izin, pencemaran Sungai Ciparigi, hingga minimnya kontribusi institusi pendidikan dan sektor usaha besar terhadap lingkungan sekitar.
Hal itu disampaikan Lurah Tegallega, Hardi Suhardiman, dalam kegiatan media gathering di Aula Kantor Kelurahan Tegallega, Rabu (29/4/2026).
Menurut Hardi, Tegallega memiliki posisi strategis sebagai kawasan permukiman dan pusat perdagangan jasa. Dengan luas wilayah sekitar 160,7 hektare, kelurahan tersebut juga tercatat memiliki tingkat kepadatan penduduk tertinggi di Kecamatan Bogor Tengah.
Meski demikian, ia menilai wilayahnya masih menghadapi beragam tantangan yang perlu segera ditangani secara bersama-sama.
“Fokus pembangunan saat ini diarahkan pada pemberdayaan ekonomi kerakyatan, pembangunan berwawasan lingkungan, serta penguatan Kelurahan Tangguh Bencana,” kata Hardi.
Dalam kesempatan ini, Hardi menyayangkan belum optimalnya komunikasi antara pemerintah kelurahan dengan dua perguruan tinggi besar yang berada di wilayah Tegallega, yakni IPB University dan Universitas Pakuan (UNPAK).
Ia berharap keberadaan kampus besar tersebut dapat memberikan dampak yang lebih nyata bagi masyarakat sekitar, khususnya melalui program sosial, pemberdayaan warga, dan solusi lingkungan.
Salah satu persoalan yang disampaikan warga, kata dia, berasal dari RW 004 terkait dugaan aktivitas pembakaran sampah yang dilakukan pihak Fakultas Teknik UNPAK.
Keluhan itu dinilai mengganggu kenyamanan serta kesehatan warga sekitar.
Selain persoalan kampus, Hardi juga menyoroti maraknya hunian sewa atau rumah kost yang disebut belum memiliki legalitas lengkap.
“Sejumlah rumah kost, sekitar 85 persen, diduga tidak memiliki izin resmi,” ujarnya.
Ia menegaskan pengawasan terhadap rumah kost harus diperketat agar tidak menimbulkan persoalan sosial di tengah masyarakat.
“Kalau berbicara masalah kost-kostan, jangan pernah berbicara masalah prostitusi. Kami tidak akan menoleransi hal tersebut di wilayah kami,” tegas Hardi.
Persoalan lingkungan juga menjadi perhatian utama pemerintah kelurahan, terutama terkait banjir di kawasan Tegallega.

Menurut Hardi, banjir diduga dipicu bangunan yang berdiri di atas badan sungai serta aliran limbah cair menuju Sungai Ciparigi dari kawasan komersial di sekitar wilayah tersebut.
Ia menyebut laporan yang diterimanya menunjukkan air sungai kerap berwarna putih, yang diduga menjadi indikasi pencemaran sekaligus menyebabkan pendangkalan.
Tegallega juga disebut menjadi tempat tinggal sejumlah tokoh nasional. Namun Hardi mengaku komunikasi dengan para tokoh tersebut belum berjalan maksimal.
“Tempat tinggal Menteri Bappenas hingga mantan dubes ada di sini, jadi warga kami. Tapi justru kita meminta pendapatnya saja susah sekali. Jadi saya rasa percuma dengan kehadiran pejabat ini jika tidak ada kepedulian pada lingkungan tempat tinggalnya,” ungkapnya.
Di tengah berbagai tantangan, Kelurahan Tegallega tetap menjalankan sejumlah program pemberdayaan masyarakat, seperti budidaya maggot, pemasangan CCTV swadaya warga, penanganan stunting, serta penguatan mitigasi bencana.
Pemerintah kelurahan berharap kolaborasi dengan kampus, swasta, dan seluruh elemen masyarakat dapat diperkuat demi percepatan pembangunan wilayah.





