Kota Bogor – bogorOnline.com
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui unit kerja Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet) meluncurkan inovasi teknologi kesehatan unggas. Inovasi teknologi kesehatan unggas ini merupakan teknologi pengendalian penyakit dan diagnosa penyakit.
Ada empat produk perternakan yang diluncurkan langsung oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Keempat produk tersebut, antara lain Vaksin Bivalen AI H5N1, Vaksin Inaktif Kombinasi HPAI – LPAI, Vaksin ND GTT/11 dan Kit Test DIVA AI BB Litvet.
Dalam kesempatan ini, Balitbangtan melalui Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP) juga meluncurkan Smart Soil Sensing Kit (S3K) sebuah perangkat sensor yang digunakan untuk mengukur sifat kimia dan fisik tanah.
Syahrul Yasin Limpo berharap dengan hadirnya inovasi teknologi kesehatan unggas dari BB Litvet ini dapat mengantisipasi terhadap segala masalah yang berkaitan dengan tantangan-tantangan kesehatan hewan sehingga bisa dilakukan.
“Dan tempat ini BB Litvet akan menjadi sangat penting. Kerena, misalnya kita punya ayam 2 juta ekor dan itu nilainya 2 miliar lebih, kalau tidak divaksin bisa menjadi masalah, bisa jadi bakteri, virus dan lain sebagainya,” ujar seusai acara peluncuran, Kamis 5 Desember 2019.
Menurut Syahrul, inovasi teknologi kesehatan ini juga sebagai upaya untuk mengantisipasi ancaman lain di era globalisasi yang mungkin saja bakteri dan virus baru masuk ke Indonesia. Oleh karena itu, ia meminta BB Litvet juga terus melakukan riset terhadap semua gejalanya.
“Saya juga berharap kita tidak hanya memanfaatkan vaksin dari luar dan Balitbangtan sendiri harus mampu menciptakan anti virus atau anti penyakit hewan. Saya kira peneliti-peneliti kita di sini cukup hebat dan target kita adalah menciptakan vaksin untuk negara lain,” tambahnya.
Syahrul mengungkapkan dalam perhitungannya apabila inovasi teknologi kesehatan unggas yang dihasilkan BB Litvet digunakan di bidang peternakan tentu saja kesehatan hewan akan lebih terjamin.
“Kalau kesehatan hewan lebih terjamin, bisa saja berat hewan semakin bagus dan populasinya semakin besar,” tandas Syahrul. (HRS)





