by

PELAJAR PANCASILA

Oleh; Yayat Supriyatna
Manajer Pendidikan SIT Asy- syifa Qolbu dan Praktisi Pendidikan

Pendidikan adalah upaya “memanusiakan manusia”. Manusia seperti apa yang hendak dibentuk dan dihadirkan oleh Pendidikan? Pertanyaan filosofis ini harus dijawab secara filisofis juga, maka dalam hal ini siapa yang menyelenggarakan Pendidikan, maka orang itu atau institusi itu harus memiliki pandangan filosofis tentang manusia dan Pendidikan itu sendiri. Mengetahui dan mengenali dengan pasti siapa manusia itu sesungguhnya, maka kita akan mengetahui dan mengenali pula Pendidikan seperti apa yang semestinya kita diselenggarakan. Karena gagal mengenali manusia secara utuh akan gagal pula dalam menyelenggarakan Pendidikan
Dalam teori system kita dapatkan sebuah rangkaian seperti INPUT-PROSES-OUTPUT dan seterusnya. Rangkaian system ini dibentuk atau hadir karena adanya nilai (value) yang berupa pandangan dunia atau falsafah yang memberikan makna akan rangkaian yang harus dijalankannya. Melalui falsafah itulah kita memiliki makna dan memberi makna pada setiap eksistensi. Melalui falsafah identitas manusia bisa dikenali secara utuh, dan melalui falsafah kita akan menemukan arah dan jalan mana yang harus ditempuh.
Belakangan, Menteri Pendidikan kita mencetuskan profil tentang Pelajar Pancasila. Karena Pancasila adalah falsafah bangsa maka dalam hal ini Pelajar akan dilihat dari sebuah Pandangan Dunia (Paradigma) Bangsa Indonesia. Pandangan Dunia atau falsafah bangsa seharusnya mempengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku manusia kemudian membentuknya menjadi pandangan, pendirian, dan sikap hidupnya maka sebuah falsafah akan memberikan identitas bagi masyarakatnya (pelajar) Falsafah bangsa akan menstimulus seseorang untuk berpikir idealis, dimana harapan dan keinginan mulia terhampar dilangit jingga konsepsional, dan melalui sebuah falsafah bangsa masyarakat memiliki kesatuan visi dan pandangan yang bisa menyatukan segala perbedaan dan keragaman
Seperti apa Pelajar Pancasila itu? Dalam hal ini Penulis akan mencoba mengurai indikator ini melalui butir – butir kalimat yang terdapat dalam setiap sila dari Pancasila:
1. Pelajar yang berketuhanan Yang Maha Esa
Pelajar berketuhanan adalah pelajar yang akan mengangguk pada yang benar dan akan menebar kebaikan. Karena berbicara Tuhan didalamnya akan berbicara kebenaran dan kebaikan karena Tuhan Maha Benar dan Maha Baik. Pelajar yang menjunjung tinggi kebenaran ia akan bersikap dan beramal ilmiah.
2. Pelajar yang berprikemanusiaan yang adil dan beradab
Pelejar yang berperikemanusiaan yang adil dan beradab adalah pelajar yang memiliki sensitivitas yang tinggi, luas dan dalam terhadap problem kemanusiaan hingg lahir kesadaran untuk peduli dan berbagi, pelajar yang bisa menempatkan sesuatu dan dirinya ditempat yang tepat hingga keberadaannya dibutuhkan oleh sekitarnya, dan pelajar yang memiliki perilaku yang sejalan dengan pengetahuannya hingga lahir pelajar yang beradab yang kehadiranya menyejukan pandangan.
3. Pelajar yang menjunjung tinggi persatuan Indonesia
Pelajar yang menjunjung tinggi persatuan Indonesia adalah pelajar yang dengan ilmu pengetahuan yang dipelajarinya berdampak pada keluasan dan kedalaman hati dan jiwa hingga bisa menerima setiap perbedaan dan keragaman dan menjadikannya sebagai kekuatan bangsa untuk bergaul dalam kebhinekaan global
4. Pelajar yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan
Pelejar yang berusaha merasakan getar nadi dan detak jantung masyarakat masuk, dekat dan berbaur dengan masyarakat dan mencoba memimpin masyarakat dengan memberinya manfaat

5. Pelajar yang berkeadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia
Pelajar yang memiliki kecerdasan emosional dan social hingga menjadi mahluk yang baik ditengah tengah masyarakat dan memiliki visi yang jauh kedepan tentang masyarakat ideal yang harus diperjuangkan dan diwujudkannya
Lembaga Pendidikan adalah kawah candradimuka yang bertanggung jawab membidani lahirnya Pelajar Pancasila dimaksud. Pendidikan seperti apa dan bagaimana menyelenggarakan pendidikannya? Inilah tantangan dan sekaligus tanggung jawab seluruh praktisi Pendidikan yang harus terus mengasah pengetahuannya hingga bisa menjadi pisau tajam yang bisa membedah permasalahan Pendidikan dan memberinya solusi dan memanen pengalaman hingga bisa memberikan pelajaran penting dan berharga dari apa yang telah dan sedang dilakukan agar apa yang akan dilakukan memiliki dasar yang kuat dan kokoh dalam menentukan wajah Pendidikan dimasa depan.

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *