by

Kenali Diabetes dan Cegah Komplikasinya

BOGORONLINE.com, Kota Bogor – Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit kronis yang berisiko mengalami komplikasi, salah satunya menyebabkan terjadinya stroke. Bahkan risiko terjadinya stroke 2 sampai 4 kali lipat dibanding dengan penyakit tanpa DM.

Hal itu dijelaskan Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Palang Merah Indonesia (PMI) Bogor dr Budiman Syaeful Anwar, SpPD, salah satu narasumber yang akan hadir dalam webinar bertemakan “Stroke dan Faktor Resikonya” pada Sabtu (23/10) mendatang.

Webinar yang diselenggarakan pada 23 Oktober 2021 oleh RS PMI Bogor ini dalam rangka menyambut peringatan Hari Dokter Nasional 2021 yang jatuh pada tanggal 24 Oktober.

dr Budiman mengatakan, umumnya hampir 80 persen DM tipe 2 terjadi pada usia lebih dari 40 tahun, namun saat ini dikarenakan pola hidup yang tidak sehat seperti kurang aktivitas, makan berlebih, dan kegemukan, DM tipe 2 pada usia lebih muda tidak jarang ditemukan. DM tipe 2 sendiri adalah kondisi di mana kadar gula dalam darah melebihi nilai normal.

Berdasarkan data Riskesdas pada 2017, kata dr Budiman, di Bogor prevalensi DM tipe 2 sebesar 2,5 persen. Jumlah ini mengalami peningkatan dari sebelumnya atau pada 2013 sebesar 2,1 persen.

Dirinya juga mencatat data Riskesdas pada 2014 stroke merupakan penyebab kematian penyakit tidak menular terbanyak di Indonesia yaitu sebesar 21,1 persen, sedangkan DM dengan komplikasi menduduki peringkat keempat yaitu 6,7 persen. Saat ini, Indonesia juga menempati peringkat keempat penyakit DM terbanyak di dunia.

dr Budiman menjelaskan, ada dua faktor risiko terjadinya DM, yaitu faktor risiko yang tidak dapat diubah dan dapat diubah atau modifikasi. Untuk yang faktor risiko yang dapat diubah, seperti kegemukan atau obesitas, hipertensi, kolesterol tinggi, dan diet berlebihan serta kurang aktivitas fisik.

Sedangkan faktor risiko terjadinya DM yang tidak dapat diubah, dicontohkan dr Budiman, antara lain ras atau eknik tertentu, riwayat keluarga, usia tua atau lebih dari 40 tahun, berat badan lahir lebih dari 4 kilogram dan berat badan lahir rendah.

“Adapun gelaja khas penyakit DM ditandai dengan 3B yaitu banyak makan, banyak minum dan banyak buang air kecil namun berat badan justru menurun. Sedangkan gejala tidak khas, di antaranya kesemutan, disfungsi ereksi, pandangan kabur dan luka lama sembuh terutama pada bagian kaki,” Ungkapnya, Sabtu (16/10/2021).

“Lalu kapan pasien dikatakan diabetes? Kadar gula darah puasa lebih dari sama dengan 126 mg/dl, kadar toleransi glukosa oral lebih dari 200 mg/dl atau HbA1C lebih dari 6,5 persen,” jelas dr Budiman kembali.

Ia juga memaparkan, ada lima pilar penanganan manajemen DM. Pertama adalah atur pola makan yang dikenal dengan 3J kepanjangan dari Jadwal, Jumlah dan Jenis.

“Jadi jadwal makan itu harus teratur, jumlah kalori yang sesuai dengan berat badan ideal atau seimbang. Jenisnya, itu disarankan karbohidrat komplek seperti nasi merah, dan banyak makan sayuran,” urainya.

Kedua, lakukan aktivitas fisik atau olahraga ringan dan sedang secara teratur. Contohnya lari, jalan kaki cepat, berenang dan bersepeda selama 150 menit per minggu.

Ketiga, pasien DM secara berkala harus monitoring kondisi kadar gula dalam darah.

Keempat adalah edukasi. Menurut dr Budiman, pasien DM harus tahu bahwa DM bisa dikontrol meski tidak bisa disembuhkan. Pasien DM juga harus tahu tentang komplikasinya dan cara pencegahnya, termasuk perawatan lainnya.

“Yang terakhir atau kelima, tak kalah penting adalah terapi. Terapi ini terbagi menjadi dua, yaitu oral (minum) dan suntik,” tandasnya. (Hrs)

ARTIKEL REKOMENDASI

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *