Pemanfaatan Pati Singkong sebagai Bahan Bakar Bioetanol

Oleh : Danisy Nadira Iftinan
Mahasiswa Semester 2 Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Konsumsi energi terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan penduduk. Sedangkan sumber daya alam yang dapat menghasilkan energi berasal dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Salah satu bentuk sumber energi terbarukan adalah biomassa. Energi biomassa berasal dari bahan organik dan sangat serbaguna. Biomassa dibuat melalui proses fotosintesis baik sebagai produk maupun limbah. Bahkan sebelum orang mengenal bahan bakar fosil, mereka menggunakan biomassa sebagai sumber energi. Namun, karena orang menjadi lebih akrab dengan penggunaan bahan bakar fosil dan beralih ke ekstraksi minyak, gas alam atau batu bara untuk energi, penggunaan biomassa menghilang dari kehidupan manusia.

Menurut Badan Pusat Statistik (2016), penggunaan energi, utamanya bahan bakar fosil akan menyisakan residu yang memberikan dampak pada pencemaran lingkungan dan peningkatan suhu bumi. Penggunaan bahan bakar fosil menyumbang emisi gas rumah kaca (CO2) sebesar 76% yang terdiri dari proses industri 65% dan kehutanan beserta penggunaan lahan lainnya 11%. Pemakaian bahan bakar bensin dan solar pada kendaraan bermotor juga menghasilkan CO2. Jumlah kendaraan bermotor yang semakin meningkat berbanding lurus dengan peningkatan emisi CO2. Emisi CO2 dari kendaraan bermotor.

Pada tahun 2014 sebesar 126,56 juta ton yang terdiri dari emisi CO2 dari pemakaian bahan bakar bensin sebesar 69,63 juta ton dan emisi CO2 dari pemakaian solar sebesar 56,92 juta ton. Menurut Haryono dkk (2010), penggunaan bahan bakar fosil selain mencemari lingkungan juga memiliki ketersediaan yang terbatas, sehingga menyebabkan krisis energi dunia. Krisis energi dunia ini terjadi akibat ketergantungan pemenuhan energi bahan bakar yang berasal dari bahan bakar fosil. Masalah ini dapat diatasi dengan upaya pemanfaatan sumber energi alternatif untuk dijadikan sebagai bahan bakar.

Salah satu bentuk energi alternatif adalah bioetanol. Bioetanol adalah bagian dari etanol yang dihasilkan dari bahan baku berupa biomassa atau limbahnya yang dihasilkan oleh teknologi biokimia melalui proses fermentasi bahan baku. Secara umum, etanol banyak digunakan sebagai bahan baku industri alkohol, seperti desinfektan, hand sanitizer, antiseptik, bahan baku farmasi, kosmetik, dan campuran bahan bakar minyak (BBM). Bioetanol dapat dibuat dari bahan bergula (tebu, nira, mangga, dll), bahan berpati (singkong, sagu dan jenis umbi-umbian lainnya) dan bahan berserat (sampah organik dan jerami padi). Salah satu bahan baku yang baik untuk pembuatan bioetanol adalah singkong/ubi kayu.

Tentu saja sudah tidak asing lagi dengan yang namanya singkong di telinga kita. Singkong/ubi kayu adalah tanaman yang populer di dunia terutama di negara tropis. Negara penghasil singkong terbesar yaitu Nigeria, Thailand, dan Indonesia. Singkong dapat menjadi sumber bahan makanan yang bisa dikonsumsi oleh semua kalangan manusia karena singkong menjadi sumber utama kalori dan karbohidrat bagi tubuh. Tumbuhan singkong sendiri bukan hanya bagian ubi nya saja yang dapat dimanfaatkan, melainkan bagian akar dan daun juga dapat dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari. Akar singkong memiliki kandungan vitamin C yang bertindak sebagai antioksidan mendukung produksi kolagen dan meningkatkan kekebalan tubuh. Selain akar, daun singkong mengandung protein yang baik bagi tubuh manusia dan dapat dimanfaatkan untuk menurunkan berat badan, memperkuat imunitas tubuh, dan meningkatkan kepadatan tulang.

Dalam 100 gram singkong terdapat banyak nutrisi di dalamnya, diantaranya yaitu karbohidrat, protein, magnesium, fosfor, serat, kalium, kalsium, folat, vitamin A, vitamin B, vitamin C, zinc, selenium, dan antioksidan seperti flavonoid dan polifenol. Kandungan pati sekitar 25-30% yang ada dalam singkong dapat dimanfaatkan untuk pemanfaatan energi alternatif yaitu bioetanol.

Menurut Indobioetanol, menyatakan bahwa proses pembuatan bioetanol dengan bahan baku tanaman yang mengandung pati atau karbohidrat, dilakukan melalui proses konversi karbohidrat menjadi gula (glukosa) larut air. Glukosa dapat dibuat dari pati, proses pembuatannya dapat dibedakan berdasarkan zat pembantu yang dipergunakan, yaitu Hydrolisa asam dan Hydrolisa enzyme. Berdasarkan kedua jenis hydrolisa tersebut, saat ini hydrolisa enzyme lebih banyak dikembangkan, sedangkan hydrolisa asam (misalnya dengan asam sulfat) kurang dapat berkembang, sehingga proses pembuatan glukosa dari pati sekarang ini dipergunakan dengan hydrolisa enzyme. Dalam proses konversi karbohidrat menjadi glukosa larut air dilakukan dengan penambahan air dan enzyme, kemudian dilakukan proses peragian atau fermentasi gula menjadi etanol dengan menambahkan ragi.

Menurut Indobioetanol, menyatakan bahwa mengingat pemanfaatan etanol beraneka ragam, sehingga grade etanol yang dimanfaatkan harus berbeda sesuai dengan penggunaannya. Untuk etanol yang mempunyai grade 90-92% biasa digunakan pada industri, sedangkan ethanol/bioethanol yang mempunyai grade 95-96% atau disebut alkohol teknis dipergunakan untuk keperluan laboratorium dan sebagai bahan dasar industri farmasi. Sedangkan grade etanol/bioetanol yang dimanfaatkan sebagai campuran bahan bakar untuk kendaraan bermotor harus benar-benar kering dan anhydrous supaya tidak menimbulkan korosif, sehingga etanol/bioetanol harus mempunyai grade tinggi antara 99,6-99,8% (Full Grade Ethanol = FGE). Perbedaan besarnya grade akan berpengaruh terhadap proses konversi karbohidrat menjadi gula (glukosa) larut air.

Bioetanol dapat dijadikan sebagai campuran dalam pembuatan bahan bakar bensin dan dapat menghasilkan kualitas yang lebih baik. Berikut beberapa keuntungan yang didapatkan dari penggunaan bahan bakar bioetanol untuk kendaraan bermotor, diantaranya yaitu, dapat mengurangi pencemaran lingkungan berupa emisi karbon. Pengurangan emisi karbon (CO2) dapat mengurangi efek rumah kaca, dapat mengatasi permasalahan global warming secara perlahan-lahan, proses pembakaran menjadi lebih sempurna, suara mesin menjadi lebih halus dan ringan, ramah lingkungan karena tidak menimbulkan polusi udara sebanyak bahan bakar fosil, bermanfaat untuk menghemat bahan bakar fosil yang tidak terbarukan, dapat memperpanjang umur kendaraan Bahan bakar bioetanol juga dapat digunakan untuk memperluas pasar produk pertanian khususnya di bidang gula.

Bahan baku seperti tebu, singkong dan jagung dibutuhkan untuk produksi bioetanol skala besar di industri. Hal ini menguntungkan petani karena mereka dapat dengan mudah menjual hasil panen mereka ke industri. Agar bahan baku yang dipanen tidak terbuang percuma dan harga di pasaran tidak turun. Tentu tidak menutup kemungkinan bagi industri itu sendiri untuk menciptakan lapangan kerja dan menyerap tenaga kerja.

Demikian penjelasan mengenai pemanfaatan pati singkong sebagai bahan bakar bioetanol. Bioetanol ini memiliki berbagai macam manfaat dan juga dapat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil yang berasal dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Maka dari itu, mari kita manfaatkan komoditas singkong atau komoditas hasil pertanian lain yang dapat dimanfaatkan untuk bahan bakar bioetanol.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *