Oleh: Abah Yayat
Dinamika perjuangan umat islam Indonesia dalam mengusir penjajah menemukan cara perlawanannya dalam berbagai bentuk. Pertama kali perlawanan itu dilakukan oleh beberapa kerajaan islam, yang kemudian mengalami kekalahan. Untuk selanjutnya perlawanan itu diambil oleh oleh para Ulama dengan para santrinya. Santri dalam konteks historis dilabeli oleh kaum penjajah sebagai pemberontak atau ekstremis. Santri adalah pejuang dan pejuang kebanyakan santri, kurang lebih itulah keberadaan santri diabad 19-20. Kemudian estapeta perjuangan umat islam mengalami modifikasi dengan mengambil bentuk kelembagaan (organisasi) seperti SI, Muhamadiyah, Nu, dll. Umat Islam dalam perjuangan kemerdekaan bangsa ini memiliki kontribusi yang cukup besar, tanpanya Indonesia mungkin tidak akan pernah ada. Maka wajar jika umat Islam menuntut hak – hak nya untuk mengatur dirinya sendiri, salah satunya lewat Piagam Jakarta.
Pesantren kini kurang lebih berjumlah 27.230 dengan jumlah santri 3.650 .000 orang. Sebuah potensi besar bagi umat islama untuk membawa bangsa – negara ini menaiki tangga kemuliaan dan kehormatan. Potensi besar ini jika diarahkan dengan benar, baik dan tepat, bisa membangun jati diri dan harga diri bangsa dimata dunia. Inilah konteks baru perjuangan kaum santri, yaitu membebaskan bangsa-negara ini dari jerat berbagai kepentingan busuk yang tidak memberikan kejelasan dan kepastian tujuan, jalan dan arah untuk kemudian berani dan percaya diri dengan kayakinannya untuk berdiri tegak menatap dan menantang zaman.
Santri yang seringkali atau sengaja berada dipinggiran Sejarah, sudah waktunya bergeser lebih ketengah untuk mempengaruhi, mengarahkan dan mengendalikan pergerakan dan perubahan bangsa dimasa depan. Santri harus merubah konteks atau muatan dakwah bukan hanya cermaha disana sini, namun lebih ke pengembangan dan pemberdayaan umat. Santri harus seperti darah mengalir diurat nadi umat, untuk merasakan getar nadi dan dekup hantung umat, membaca keinganan dan harapan umat dan kemudian menyadarkan, mencerahkan dan memberanikan umat untuk menuntut hak haknya.
Takdir historis santri itu adalah menjadi pejuang. maka cita – cita santri sejatinya menjadi pejuang bagi bangsa dan negara ini. Salah dan keliru memilih cita – cita akan membiarkan bangsa dan negara ini salah dan keliru dalam memilih langkah langkahnya. Santri harus kembali kedepan untuk memberikan teladan kepemimpinan, berada ditengah tengah dan dibelakang umat untuk mempengaruhi dan mendorong umat bergerak maju menjadi umat terbaik untuk bangsa ini.





