“Dunia Dalam Ketegangan Tinggi: Ancaman Perang Besar di Depan Mata”  

Headline, Sosok100 views

Oleh: Abah Yayat

 

Menurut Jonathan Holslag (2023), selama sekitar tiga ribu tahun, Cina telah mengalami setidaknya sebelas abad untuk berperang, Kekaisaran Romawi berkonflik selama 50 persen dari masa hidupnya, dan sejak 1776 Amerika Serikat telah melalui berbagai peperangan selama lebih dari seratus tahun.

Perang Dunia I (1914–1918) yang disebabkan oleh: nasionalisme, aliansi militer, perlombaan senjata yang memakan korban: ± 20 juta jiwa dan Perang Dunia II (1939–1945) yang dilatar belakangi oleh Ideologi ekstrem: fasisme, nazisme dengan menggunakan Teknologi mematikan: tank, bom udara, bom atom memakan korban: ± 60 juta jiwa. Peperangan terus berjalan seiring dunia ini berputar, hampir tidak ada jeda sedikitpun di dunia ini untuk berhenti berperang.

Ancaman Perang Dunia Ketiga didepan mata. Terlepas dari berbagai motif yang melatarbelakanginya, fenomena ini menguatkan pernyataan pesimis malaikat sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an, bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki kecenderungan melakukan kerusakan dan menumpahkan darah: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan di sana orang yang akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’ (Q.S. Al-Baqoroh: 30)

Dunia kini sedang mengalami krisis kepercayaan yang melahirkan kecurigaan antara peradaban. Manusia dan peradaban sudah mengalami masa berhenti untuk percaya pada yang lain. Perlu pemikiran alternatif untuk menjembatasi perbedaan agar kecurigaan terkikis dan kepercayaan tumbuh. Perlunya setiap peradaban menelaah kembali (refleksi dan evaluasi) terhadap dirinya sendiri atas apa yang telah dilakukannya untuk hari esok dunia yang cerah. Setiap peradaban pasti memiliki sesuatu yang diunggulkan yang seharusnya tidak membuatnya jumawa. Masing – masing keunggulan itu harusnya bisa saling memberi dan mengisi hingga dunia bisa dinikmati Bersama. Mental jumaha itulah yang membuat peradaban akan terus saling berbenturan. Peradaban bukan untuk dihadap hadapkan, tapi untuk didialogkan agar bisa menemukan kelebihan-kekurangan masing maisng dan akhirnya saling mengisi untuk menguatkan peradabannya masing – masing.

Peradaban Barat kini menjadi symbol zaman yang memberi identitas pada dunia, yang ingin sekali menyatukan dunia dalam hegemoni dan dominasinya membuat standar atau kriteria interaksi dan relasi antar peradaban, dan kini sedang berupaya mengarahlan dunia dengan segala kepentingannya.

Samuel P. Huntington dalam teorinya “Clash of Civilizations” (Benturan Peradaban) Ia memandang bahwa salah satu benturan paling potensial terjadi antara peradaban Barat dan Islam. Huntington berpendapat bahwa Barat yang membawa nilai sekularisme, liberalisme, dan individualisme seringkali berhadapan dengan dunia Islam yang berakar pada nilai religius, tradisi, dan komunitas. Perbedaan pandangan hidup, sistem nilai, serta pengalaman sejarah yang panjang membuat hubungan keduanya sering diwarnai kecurigaan, ketegangan politik, dan konflik kepentingan global.

Islam yang sering dipersepsikan sebagai ancaman terhadap hegemoni dan dominasi peradaban Barat adalah Islam fundamentalis yang mengusung visi pembentukan tatanan sosial Islam secara global. Visi tersebut memperoleh manifestasi konkret dalam bentuk perlawanan melalui Revolusi Islam Iran. Sejak peristiwa tersebut, Iran dipandang sebagai salah satu pihak yang menantang eksistensi dan pengaruh peradaban Barat. Hingga saat ini, ketegangan tersebut kembali mengemuka dan berpotensi memicu konflik yang tidak hanya terbatas pada perang antarnegara, tetapi juga dapat berkembang menjadi konflik regional, bahkan global.

Di sisi lain, ketika peradaban Barat mengangkat wacana benturan antarperadaban, Muhammad Khatami, mantan Presiden Iran, justru mengusulkan gagasan dialog antarperadaban. Dialog tersebut didasarkan pada semangat kesetaraan dan kesejajaran, yang menekankan prinsip saling memberi dan menerima. Namun, sikap superioritas yang kerap ditampilkan oleh Barat, yang cenderung menempatkan dirinya sebagai pihak yang lebih unggul dan mendikte negara lain, seringkali menjadi hambatan bagi terwujudnya dialog yang setara. Kondisi tersebut menyebabkan dialog sulit terwujud, sehingga konflik dan perang kerap dipandang sebagai pilihan yang sulit dihindari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *