KHUTBAH IDUL FITRI

beranda, Headline92 views

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.

 

Segala puji bagi Allah SWT Yang Maha Besar, tempat kita berlindung dari kejahatan, serta sumber motivasi dan inspirasi dalam menghadapi dan melawan kezaliman. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya yang telah menjadi teladan dalam memperjuangkan kebenaran Islam.

Saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada para pembaca sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Melalui ketakwaan, Allah akan membukakan jalan keluar atas setiap persoalan yang dihadapi. Takwa merupakan solusi dalam menjalani kehidupan, sebagaimana firman Allah SWT: “…Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar.” (Q.S. At-Talaq: 2).

Nikmat terbesar setelah keimanan adalah persaudaraan. Hakikat persaudaraan adalah menghapus kesalahan, bukan sebaliknya, kesalahan yang menghapus persaudaraan. Kita bukan Iblis yang selalu salah, dan bukan pula malaikat yang senantiasa benar. Oleh karena itu, sikap saling memaafkan merupakan bukti bahwa kita adalah manusia.

Kini kita hidup di tengah arus deras informasi yang telah meruntuhkan batas-batas antarnegara, mengikis nilai-nilai tradisi masyarakat, dan melemahkan benteng terakhir pertahanan keluarga. Disadari ataupun lengah dan rela ataupun terpaksa, kita telah menjadi bagian dari masyarakat global yang tidak bisa membelakangi dunia ini. Peristiwa yang terjadi di suatu tempat akan berdampak pada tempat lain, terlebih apabila peristiwa tersebut dipengaruhi oleh pihak-pihak yang memiliki kekuasaan global. Sebagaimana yang dapat kita saksikan dan rasakan saat ini, konflik antara Israel dan Amerika melawan Iran diprediksi oleh hampir seluruh pengamat akan memberikan dampak yang luas dan menyeluruh terhadap tatanan dunia.

Dampak dari arus deras informasi tersebut telah menenggelamkan kesadaran manusia, sehingga manusia tidak lagi mampu membedakan antara yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, serta yang tepat dan yang keliru. Agama maupun tradisi tidak lagi dijadikan sebagai pedoman dalam mengarahkan kehidupan. Kebenaran seakan terhenti, dan kepercayaan mengalami stagnasi, sehingga individualitas semakin tajam mengikis solidaritas sosi.

Arus informasi yang semakin deras telah memunculkan berbagai persoalan yang menempatkan manusia pada beragam pilihan yang sesungguhnya tidak dibutuhkan, namun seolah-olah harus diterima sebagai realitas yang perlu disikapi. Oleh karena itu, diperlukan alat dan cara yang tepat agar individu mampu menavigasi arus tersebut tanpa terhanyut. Tanpa kesiapan tersebut, manusia berisiko tenggelam dalam kehidupan yang tidak menentu serta kehilangan arah.

Seiring dengan dinamika kehidupan yang terus bergerak dan menghadirkan beragam persoalan, proses belajar secara berkelanjutan menjadi suatu keniscayaan dalam menghadapinya. Dalam konteks ini, terdapat pilihan mendasar: apakah individu akan membiarkan dirinya dikendalikan oleh arus kehidupan, atau justru mengambil peran aktif sebagai pengendali atas kehidupannya sendiri.

Kehidupan dapat dipahami sebagai ruang terbuka yang di dalamnya berlangsung perebutan hegemoni dan dominasi. Dalam konteks tersebut, manusia dihadapkan pada dua pilihan utama: memengaruhi atau dipengaruhi, mengarahkan atau diarahkan, mengendalikan atau dikendalikan, serta memimpin atau dipimpin. Pada saat yang sama, manusia kini berhadapan dengan kekuatan teknologi informasi yang berperan kuat dan besar dalam mengarahkan, memengaruhi, dan mengendalikan kehidupan.

Di sisi lain, ruang batin yang mendambakan ketenangan, keintiman, dan kedamaian turut terseret oleh derasnya arus tersebut, sehingga berpotensi mengalami kehampaan, kegelisahan, kecemasan, dan kekhawatiran terhadap keadaan.

Teknologi pada hakikatnya diciptakan untuk memanusiakan manusia, namun dalam perkembangan mutakhir justru berperan mengendalikan kehidupan manusia. Secara ideal, teknologi berfungsi untuk memerdekakan dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, bukan sebaliknya memperbudaknya. Fenomena ini mencerminkan ironi manusia modern: manusia menciptakan berbagai benda, tetapi pada akhirnya benda-benda tersebut justru menggeser peran manusia dalam kehidupan, bahkan turut mengarahkan dan mengendalikan eksistensinya.

Bagaimanapun kondisinya, kehidupan harus tetap dihadapi, dijalani, dan dilalui. Sebelum melangkah lebih jauh hingga berisiko kehilangan arah dan kendali, penting untuk meninjau kembali tingkat persiapan dan kesiapan dalam menjalaninya. Persiapan yang dimaksud meliputi:

 

1. Persiapan Pemikiran

 

Pemikiran berfungsi memberikan arah mengenai apa yang seharusnya dijalani dalam kehidupan. Melalui pemikiran, individu membangun visi tentang kehidupan yang akan ditempuh. Tanpa visi, individu cenderung mudah diarahkan dan dikendalikan oleh arus kehidupan.

 

2. Persiapan Moral

 

Visi tidak cukup hanya bersifat konseptual, tetapi perlu diinternalisasi dalam batin sehingga melahirkan tekad atau kehendak yang kuat untuk mewujudkannya. Kehidupan senantiasa menghadirkan pilihan-pilihan, dan setiap individu memiliki kebebasan untuk menentukannya. Namun demikian, setiap pilihan mengandung konsekuensi, yang darinya lahir tanggung jawab.

 

3. Persiapan Mental

 

Setiap pilihan membawa konsekuensi yang dapat bersifat sesuai harapan (menyenangkan) maupun tidak sesuai harapan (menyakitkan). Individu yang memiliki kesiapan mental akan mampu merespons setiap realitas secara positif. Ketika menghadapi kenyataan yang menyenangkan, ia bersikap syukur, dan ketika menghadapi kenyataan yang menyakitkan, ia bersikap sabar.

 

4. Persiapan Spiritual

 

Tingkat ketajaman dan kedalaman spiritual sangat menentukan kesiapan dan ketahanan individu dalam menghadapi kehidupan. Ketajaman spiritual memungkinkan individu memahami realitas secara lebih mendalam, sehingga mampu menangkap makna dan menarik pelajaran dari setiap peristiwa. Sementara itu, kedalaman spiritual memungkinkan individu menampung berbagai pengalaman dan menempatkannya secara proporsional dalam kehidupan.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.

 

Sejak runtuhnya kekhilafahan, umat Islam kehilangan kepemimpinan yang mampu menyatukan berbagai potensi menjadi kekuatan yang bisa diperhitungkan. Akibatnya, potensi tersebut tersebar dan tidak terintegrasi, sehingga umat kehilangan kekuatan serta kapasitas untuk bangkit. Ketiadaan kepemimpinan yang tunggal menyebabkan umat kehilangan arah, bahkan mengalami penyimpangan arah. Kondisi kehilangan arah dan kesalahan arah inilah yang mendorong terjadinya perpecahan ke dalam berbagai golongan, di mana masing-masing kelompok merasa paling benar, sehingga memicu munculnya permusuhan di antara mereka.

Perpecahan dan permusuhan tersebut menyebabkan potensi umat tidak dapat diberdayakan secara optimal. Dampaknya, kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan menjadi realitas pahit yang harus dihadapi oleh para pemimpinnya. Dalam berbagai firman-Nya, Allah SWT mengimbau umat Islam untuk menghindari perpecahan dan mendekat kepada persatuan, di antaranya:

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…”QS. Ali Imran: 103

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka…” QS. Al-An’am: 159

“…dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan…” QS. Ar-Rum: 31–32

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu…” QS. Al-Hujurat: 10

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu…” QS. Al-Anfal: 46

Umat Islam di berbagai wilayah memiliki kerinduan yang kuat terhadap persatuan guna bersama-sama membangun kekuatan. Namun demikian, yang belum tersedia dan belum siap adalah kepemimpinan yang mampu mewujudkan persatuan tersebut. Dalam realitasnya, kepemimpinan justru menjadi faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya perpecahan di tengah umat. Padahal, umat Islam memiliki kesamaan dalam aspek fundamental: Tuhan yang satu dan sama, yaitu Allah SWT; kitab yang satu dan sama, yaitu Al-Qur’an; serta nabi yang satu dan sama, yaitu Muhammad SAW. Namun demikian, kesamaan tersebut belum mampu mewujudkan persatuan dan kebersamaan di kalangan umat.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. 58: 19)

Ayat tersebut mengajak manusia untuk melakukan introspeksi diri guna membentuk pribadi yang mulia, serta melakukan ekstrospeksi sosial dalam rangka mewujudkan masyarakat yang ideal. Hal ini sejalan dengan makna Idul Fitri, di mana ‘Id berarti kembali dan fitri berarti suci. Dengan demikian, Idul Fitri mengandung makna ajakan untuk kembali kepada keadaan asal yang suci.

Kembali kepada keadaan asal secara individual berarti menyadari bahwa manusia diciptakan dari unsur yang sama, yaitu tanah, dan berasal dari sumber yang satu, yakni Allah SWT. Perbedaan yang tampak dalam kehidupan lebih disebabkan oleh dinamika kehidupan dan status sosial yang melekat pada individu. Hal tersebut pada dasarnya hanyalah atribut duniawi yang bersifat sementara. Apabila seluruh atribut tersebut ditanggalkan, maka akan tampak bahwa hakikat manusia adalah satu dan sama.

Kesadaran inilah yang menjadi potensi dasar bagi terwujudnya persatuan dan kebersamaan dalam harmoni. Individu yang tidak memahami hal ini cenderung membangun dan mempertahankan perpecahan, sedangkan individu yang memiliki pemahaman yang baik akan berupaya membangun jembatan sinergi dalam kehidupan bersama.

‘Idul Fitri mengajak umat islam untuk kembali kepangkuan umat yang memiliki tujuan, jalan, arah, gerak, dan kepemimpinan yang satu dan sama. Memperjuangkan tegaknya kepemimpinan dan kesatuan umat adalah Upaya mengembalikan hakikat keberadaan umat. Tanpa kemimpinan dan kesatuan umat, kita akan selamanya terpecah belah yang membuat umat kehilangan kekuatan.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.

 

Pesan terakhir dari khutbah ini adalah:

 

Pertama, membuka ruang refleksi seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya untuk melakukan perenungan, membaca diri, serta memahami keadaan guna menemukan relevansi. Dalam hal ini, perlu dipertanyakan apakah kondisi diri telah sesuai dengan harapan, kurang sesuai, atau justru tidak sesuai dengan harapan.

Kedua, menjadikan bulan Ramadhan yang telah berlalu sebagai cermin untuk melihat jati diri yang sesungguhnya. Apakah Ramadhan yang dijalani berfungsi sebagai kawah candradimuka yang membentuk diri sehingga mampu keluar sebagai pribadi baru yang siap melakukan perubahan dan perbaikan keadaan.

Ketiga, membuka ruang dialog untuk melahirkan ide, pemikiran, dan gagasan yang mampu menjawab kebutuhan, permasalahan, serta tantangan umat.

Keempat, menyusun rencana secara matang, karena tanpa perencanaan, setiap pilihan dan langkah menjadi tidak penting dan tidak berguna. Kesalahan dalam menyusun rencana pada hakikatnya sama dengan merencanakan kesalahan itu sendiri.

Kelima, menghidupkan cinta di tengah kehidupan yang semakin dipenuhi sikap egois, kebencian, iri hati, dengki, dan dendam.

Sebagai penutup, semoga Allah SWT menetapkan kita sebagai bagian dari orang-orang yang melanjutkan risalah Muhammad SAW.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *