by

Sisi Lain A. Tohawi, Anggota DPRD Kabupaten Bogor

Bangga Menjadi Petani

Jika kebanyakan pejabat lebih suka senang pamer foto jalan-jalan keluar Kota atau keluar negeri, kemewahan atau hal lain yang membuat iri, tidak demikian dengan Ahmad Tohawi Husnullah. Anggota DPRD Kabupaten Bogor dua periode yang kini duduk sebagai Ketua Fraksi Partai Golkar-PAN tersebut, lebih suka memajang foto-foto kegiatan di Pusat pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S), yang dikelolanya sejak 2001 lalu.

“media sosial buat saya itu jadi seperti tempat promosi, hahaha,” guraunya.

Tohawi memang menjadikan pertanian sebagai ladang usahanya. Fokusnya dibidang perikanan. Bahkan, warga Desa Cibeuteung Muara, Kecamatan Ciseeng Kabupaten Bogor itu, pernah menjadi penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan di masa Fadel Muhammad. Sampai kini, Tohawi juga masih aktif memberikan penyuluhan budidaya ikan kepada pelajar, pelaku usaha hingga pemerintahan yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Bukan hanya memberi teori, Tohawi kerap memberikan praktek secara langsung.

Tohawi mulai banting stir ke dunia pertanian sejak Tahun 1998. Dengan hanya bermodal 4 (empat) bibit gurame, pria yang juga aktif sebagai guru madrasah itu, memberanikan diri untuk melakukan budidaya ikan.  Namun, usahanya ini, kurang mendapat dukungan dari keluarga. Bukan perkara mudah bagi alumnus Pendidikan Guru Agama Negeri Bogor tersebut untuk meyakinkan kepada keluarga, bahwa sektor pertanian merupakan bidang usaha yang layak diperjuangkan.  “saya sarjana ke 11 di kampung, harapan keluarga tentunya bisa mendapat pekerjaan yang lebih layak di Jakarta. Umumnya seperti itu,” kisahnya

Kenyataan ini, membuktikan ketakutan masyarakat di perdesaan yang sudah dirasuki hal-hal yang berbau kota. Hidup sejahtera dibidang pertanian, dianggap sesuatu yang absurd. Petani dianggap bukan profesi yang menjanjikan, yang bisa mendatangkan banyak uang. Tidak heran, jika belakangan, banyak petani yang menjual lahannya kepada pengembang. Hamparan sawah, berubah menjadi kawasan perumahan, pabrik dan tempat perbelanjaan. Petani dan keturunannya mencoba alih profesi. Ada memang yang berhasil, tetapi kebanyakan malah tidak menjadi apa-apa. Petani dipersonifikasian sebagai masyarakat miskin. Itu karena tidak ada lagi yang mereka punya.

Namun, tekad kuat dan kemauan untuk belajar membuat aktifis gerakan Praja Muda Karana (Pramuka) tersebut pantang  mundur. Ia berusaha meyakinkan keluarga, bahwa sarjana tidak harus mencari uang di kota. “justru kita harus membangun kampung kita, desa kita dengan memaksimalkan potensi yang kita miliki,” katanya.

Tahun pertamanya sebagai petani, memang tidak memberikan kontribusi yang signifikan dalam merubah struktur keuangan keluarga. Sebagai pemula, Tohawi juga merasakan kegagalan, seperti halnya dialami petani lainnya. Tetapi, karena kemauan menimba pengetahuan yang besar, masa sulit itu tidak berlama-lama singgah dalam kehidupan keluarga Tohawi. “tahun 2000 saya baru bisa membeli lahan dan tahun 2003 saya mulai menuai hasilnya, saya bisa memperbaiki pagar rumah,”  Tohawi, bangga.

Dari situ, keluarga bisa kembali menaruh harapan pada sektor pertanian. “Mitos” bahwa sarjana harus cari uang di kota, terbantahkan dengan sendirinya. Tohawi membukakan mata, bahwa sarjana lebih dibutuhkan di desa. Membangun dan mensejahterakan masyarakat desa. Pertanian budidaya ikan, semakin bergeliat di Kecamatan Ciseeng. “dari berbagai daerah di Indonesia, menimba ilmu budidaya ikan ditempat ini,” kata Tohawi, merujuk Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya, di Kecamatan Ciseeng.

Dunia Politik

 

Tohawi sudah dua periode  menjadi anggota DPRD Kabupaten Bogor. Ia berangkat dengan kendaraan politik, Partai Golkar. Tohawi duduk sebagai anggota legislatif sejak periode 2004-2009 dan terpilih kembali pada Pemilu 2014 untuk masa bhakti hingga 2019. Saat majalah ini diterbitkan, suami dari Husnah itu menjabat sebagai Ketua Fraksi Goklar-PAN, fraksi gabungan partai Golkar dengan Partai Amanat Nasional.

“saya ingin sekali memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat melalui posisi saya sebagai anggota DPRD,” katanya.

Di parlemen, Tohawi terbilang anggota DPRD yang cukup keras menyuarakan kepentingan rakyat. Fokusnya pada bidang pertanian. Karena itu, ia sempat diamanatkan menjadi ketua panitia khusus (Pansus), ketika pemerintah kabupaten  Bogor menggagas revisi rencana tata ruang wilayah (RTRW) 2005-2025. Menurut Tohawi, perubahan rencana ruang ini, tidak boleh sampai mengorbankan masyarakat petani. “kalau bisa, luasan kawasan pertanian kita bertambah, bukan dikurangi,” katanya

Tohawi juga menilai, Kabupaten Bogor mestinya menjadi basis pertanian nasional. Selain karena masih luasnya lahan, di Bumi Tegar Beriman ini, juga berdiri kampus berkelas dunia, yakni Institut Pertanian Bogor. Namun, sayanganya, ia berpendapat, pemerintah Kabupaten Bogor sampai saat ini, tidak percaya diri untuk mengembangkan sektor pertanian. “anggaran untuk pertanian kita masih sangat kecil. Itu salah satu indikator, pemerintah belum begitu bersemangat menggerakan sektor pertanian,” katanya

Masalah lainnya, soal infrastruktur pertanian yang masih belum bisa mendorong peningkatan produksi. Saluran irigasi banyak yang rusak. Pun demikian dengan akses jalan menuju kantong-kantong produksi pertanian. Selain itu, harga produk pertanian yang terkadang malah merugikan para petani.

Menurut Tohawi, mestinya Pemerintah melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas harga. Caranya, bisa dengan membeli produk-produk pertanian dengan harga yang pantas. “jadi petani menjual produknya kepada pemerintah dan pemerintah nanti yang menjualnyanya kepada end user,” kata dia. (*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed