Kantor TNGHS Gunung Bunder Di Serang Puluhan Pemuda

PAMIJAHAN – bogoronline.com – Puluhan pemuda Karang Taruna Desa Tapos 1 Kecamatan Tenjolaya, memprotes sikap petugas Kantor Konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) yang berdomisili di Gerbang Bumi Perkemahan Gunung Bunder, Desa Gunung Bunder 2, Kecamatan Pamijahan yang ditengarai membongkar paksa sebanyak empat buah bangunan tradisional yang terbuat dari bambu di sekitaran wisata Curug Putri di Kampung Neglasari, Desa Tapos 1, Kecamatan Tenjolaya pekan lalu.

Buntutnya, akibat dari kekesalan tersebut, puluhan pemuda karang taruna Desa Tapos 1 akhirnya menyerang kantor Konservasi TNGHS untuk meminta pertanggung jawaban atas aksi arogan TNGHS.

Bubun Burhanudin, tokoh pemuda dan masyarakat Tenjolaya, menegaskan, ke empat bangunan yang dibongkar paksa oleh petugas kantor TNGHS itu berada di kawasan Wisata Curug Putri, yang menjadi bagian zona wisata TNGHS yang manfaatnya dikelola oleh para pemuda Karang Taruna Desa Tapos 1 dan desa lainnya termasuk Tapos 2.

“Dihancurkannya Empat buah Bangunan Gubug yang berdiri di sekitaran pintu masuk Curug Putri Gunung Salak, sepertinya pemuda Tenjolaya dilarang ikut andil mengelolanya, inikan tidak adil.”kata Bubun Burhanudin, Kepala Desa Tapos 2, sekaligus dewan pembina Pemuda Tenjolaya, kemarin.

Menurut dia, dengan perusakan dan pembakaran gubug gubug yang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu itu.

“Ini mah sama saja dengan aksi premanisme. Jadi wajar dong para pemuda Tenjolaya marah lalu menyerang balik. Ya agar diketahui, bahwa penyerangan pemuda Tenjolaya hanya untuk memprotes saja, mereka merasa di anak tirikan, itu saja.”tukasnya.

Tri Siswo Raharjo, Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Halimun Salak, menegaskan, bahwa ke empat bangunan yang kesemuanya terbuat dari bambu dan daun kiray tersebut, berdiri pada zona terlarang, dan dinyatakan liar.

“Pendiriannya tanpa izin dan tanpa prosedur, apalagi dibangun diatas lahan terlarang yang masuk pada kawasan konservasi Taman Nasional.”bebernya.

Kepala Balai Besar menambahkan, sebelumnya pada saat ke empat bangununan bambu itu didirikan, pihaknya mengaku sudah menegur secara lisan, lalu menyusul surat teguran pertama dan kedua, yang isinya menerangkan bahwa di area tersebut dilarang dibangun jenis bangunan apapun.

“Namun teguran kami tidak di indahkan. Ya akhirnya kami bongkor paksa. Sedangkan bangunan itu tidak kami bakar, hanya dibongkar saja.”terangnya.

Terkait protes dan penyerangan, pihak Balai besar sangat memaklumi.

“Begitupun soal pengelolaan desa wisata di kawasan Zona Wisata TNGHS, semua harus sesuai prosedur dan aturan yang berlaku, termasuk mengenai izin pengelolaannya. Jadi tidak liar dan semuanya saja. Mengingat gunung Salak merupakan taman nasional yang harus di jaga kelestariannya, apapun potensi wisata yang terpendam didalamnya jika ingin di kelola oleh masyarakat ya monggo wae, asal mengikuti prosedur dan aturan yang berlaku.”tandasnya.

Kapolsek Cibungbulang, Kompol. Ronny Mardiatun, menambahkan, bahwa kehadiran sekelompok pemuda yang jumlahnya mencapai puluhan orang itu ke Kantor TNGHS Gunung Bunder, bukan untuk merusak, tapi memprotes.

“Sedangkan kini kasusnya sudah selesai, dimana kedua belah pihak sudah berdamai. Meski demikian kami dari kepolisian akan terus mengawasi perkembangannya lebih lanjut.”pungkasnya. (Ebim)

Comments




Leave a Reply

Your email address will not be published.