Pengerjaan Pendestrian Tak Sesuai Harapan, Bima Murka Saat Sidak

Kota Bogor – bogorOnline.com

Khawatir pengerjaan proyek pedestrian tak selesai tepat waktu, Walikota Bogor Bima Arya melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak). Bima terlihat mengerutkan keningnya, setelah mengetahui hasil pengerjaan proyek pedestrian tersebut tidak maksimal.

Didampingi Kepala Dinas Bina Marga dan SDA, DKP dan Sekdis DLLAJ. Tak ketinggalan hadir pula perwakilan dari PT. Hennyeka Pratama selaku kontraktor pemenang tender senilai Rp3,2 miliar. Sesekali Bima sempat meluapkan kekecewaannya dengan membanting bahkan menendang batu andesit material bangunan yang sudah terpasang di area pendestrian. Terlebih ketika melihat banyaknya pedagang kaki lima (PKL) berdagang di area pendestrian.

“Ada persoalan diproyek pendestrian ini, pengerjaan sempat terhenti selama sebulan kerena ada persoalan internal. Artinya, vendornya bermasalah, yang berdampak pada kualitas pengerjaan di bawah standar,” ujar Bima disela sidak, Jum’at (9/9/16).

Bima mengungkapkan, disisa waktu pengerjaan yang tinggal empat hari ini, yaitu hingga 13 September, kontraktor harus memaksimalkan kualitas pengerjaan pendestrian. Sejauh ini pengerjaan dilakukan tidak rapi dan belum tuntas termasuk dari perencanaan tidak matang, sehingga membuat beberapa batu andesit yang sudah terpasang mengalami pecah-pecah.

“Ini seharusnya diperhitungkan secara matang dari awal, terutama pada titik-titik akses jalan keluar masuk kendaraan. Ya, ketika itu rusak dan hancur artinya ada perencanaan yang tidak matang. Proyek ini memang dari pusat (Kementerian Perhubungan) kita hanya memberikan bantuan teknis saja, dari pusat pengawasan juga lemah,” ungkapnya.

Bima menambahkan, atas pengerjaan yang tidak maksimal ini, Pemkot Bogor akan melayangkan surat pemberitahuan terkait catatan hasil sidak kepada Kementerian Perhubungan.

“Soal sanksi, kita serahkan ke pusat,” tandasnya.

Sementara itu, pelaksanaan PT. Hennyeka Pratama, Nana Supriatna berdalih menemui kendala dalam pengerjaan di lapangan terutama pada titik akses jalan sehingga material bangunan cepat rusak. Kata dia, saat proses pengerjaan, namun pengguna jalan tetap meminta untuk bisa melintasi akses jalan tersebut.

“Upaya kita dari perencanaan batu andesit harus diganti dengan ukuran yang lebih kecil, agar bisa lebih kuat,” pungkasnya.(bunai)