Tangkal Berita “Hoax” FMPB Gelar Diskusi di Ponpes Al Ghazali

 

bogorOnline.com

Banyak bermunculan informasi dan berita palsu atau lebih dikenal dengan istilah “Hoax” di sebar oleh sejumlah oknum yang tidak bertanggung jawab di postingan melalui Jejaring media sosial (Medsos) maka dari itu kita harus berhati-hati dalam pembaca dari segala bentuk berita yang tidak benar atau bohong, jangan dengan mudah termakan tipuan hoax tersebut bahkan ikut menyebarkan informasi palsu.

Berlatarbelakang perihal diatas, Forum Mahasiswa Peduli Bangsa (FMPB) bekerjasama dengan Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI), menggelar diskusi publik bertema “Literasi Konten Positif Santri dan Masyarakat Untuk Menangkal Provokasi serta Penyebaran Hoax”, pada Kamis (22/3/18). Kegiatan yang dilangsungkan di Pondok Pesantren, Al Ghazali, Kebon Kelapa, Kecamatan Bogor Barat tersebut juga turut mengundang KPU Kota Bogor, MUI, Kepolisian, dan Akademis sebagai narasumber.

Ketua Panitia FMPB, Ahmad Rohan yang juga sebagai salah satu pembicara menuturkan, diskusi ini digelar dengan tujuan ingin masyarakat khususnya kalangan pelajar memahami informasi yang terbilang bohong atau hoax dam bisa menangkalnya. Ia menguraikan ada beberapa cara sederhana yang bisa membantu dalam mengidentifikasi mana berita hoax dan mana berita asli. Pertama, hati-hati dengan judul provokatif. Kedua, cermati alamat situs. Ketiga, periksa fakta. Keempat, cek keaslian foto. Kelima, ikut serta grup diskusi anti-hoax.

“Melalui kegiatan edukasi ini, kita juga merangkul berbagai pihak yang berkompeten bagaimana menangkal isu dan informasi hoax. Disamping itu, pemerintah juga telah berupaya untuk mengurangi penyebaran hoax atau berita palsu dengan cara menyusun undang-undang yang di dalamnya mengatur sanksi bagi pengguna internet yang turut menyebarkan konten negatif,” katanya.

Ia menjelaskan, banyak orang terhasut bahkan menjadi korban dari isu hoax karena kurang edukasi khususnya literasi digital yang menjadi media paling mudah dalam penyebaran hoax. Menurut dia, keluarga adalah garda terdepan mencegah hoak. Orangtua harus aktif saat anak mengakses media sosial. Di sisi lain, seluruh pihak juga harus terlibat aktif menangkal hoax, tak terkecuali para pemimpin agama.

“Saya mengingatkan agar generasi muda tidak sembarangan menyebarkan suatu informasi yang belum diketahui fakta dan kebenarannya. Karena itu dapat merugikan orang lain, dan hal itu bisa bersinggungan dengan hukum. Saya berharap masyarakat lebih cerdas mensikapi informasi dan bisa memfilter setiap kabar maupun isu yang tidak benar,” imbuhnya. (Nai/ist)

Comments