Uu Inginkan Santri Melek Tekhnologi

Uu Inginkan Santri Melek Tekhnologi

Garut – Di era globalisasi sekarang ini, perkembangan teknologi dan informasi semakin pesat dan canggih, bahkan hingga ke daerah pelosok pun teknologi semakin berkembang.

Untuk itu, seiring berkembang nya teknologi, para santri diminta untuk lebih melek tekhnologi, sehingga para santri pun bisa berperan serta dalam mengisi perkembangan negara.

Hal tersebut dikatakan Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum kepada wartawan disela acara kunjungan ke pondok pesantren Qurrota Ayun, Samarang, Kabupaten Garut, Sabtu (6/10/2018).

“Perkembangan zaman sudah berubah, dan tidak bisa dihindari. Untuk itu, santri tidak terseret dan termarjinalkan maka harus mengikuti perkembangan teknologi,” kata Uu.

Seperti halnya di Pondok Pesantren (Ponpes) Qurota Ayun Samarang Kabupaten Garut ini, yang sekarang sudah menerapkan teknologi dalam sistem pembelajaran bagi para santrinya.

Pola pendidikan di Ponpes bukan hanya sebatas memberikan keilmuan ukhrowi (agama) melainkan dilengkapi dengan ilmu keduniawian.

“Justru di pondok pesantren Qurota Ayun ini sudah menjalankan konsep itu. Santri hapal teknologi,” imbuhnya.

Menurutnya, perkembangan tekhnologi memang harus dibentengi dengan kekuatan iman. Terutama untuk membentengi hal-hal negatif yang tidak diinginkan.

Dalam hal itu pondok pesantren bisa membentengi dampak negatif dari perkembangan teknologi yaitu membekali para santrinya dengan nilai-nilai agama. Jika tidak diberikan maka akan berdampak negatif bagi perkembangan generasi di masa yang akan datang

“Setiap hal di dunia ini ada manfaat ada maksadat. Maka sisi negatif ini harus diminimalisir dengan keilmuan yang diberikan di pondok pesantren ini. Kalau tidak diberikan maka khawatir tekhnologi yang ada kan menjadi poetaka bagi dirinya karena tidak dibentengi dengan keimanan ada ketaqwaan,” ujarnya.

Mantan Bupati Tasikmalaya ini menjelaskan, para santri juga harus lebih memperdalam ilmu agama dan duniawinya sehingga ketika lulus dari Pondok Pesantren memiliki karakter di masa yang akan datang.

Apabila para santri tidak dididik dengan ilmu agama (ukhrowi), jelas Uu, maka dikhawatirkan ketika mereka menjadi pemimpin tidak bermanfaat bagi masyarakat karena moral dan ahlaknya tidak dijaga dengan keimanan dan ketaqwaan. Oleh karena itu, Santri di Ponpes Qurota Ayun harus mempelajari 12 keilmuan.

“Saya berharap para santri belajar ilmu agama yang maksimal karena generasi muda sangat butuh ilmu agama sehingga memiliki karakter di masa yang akan datang,” jelasnya.

Uu menilai, lulusan Ponpes berbeda dengan lulusan ilmu lainnya karena selain dibekali ilmu duniawi, mereka dilengkapi dengan ilmu ukhrowi.

Selain itu, yang membedakan lulusan pesantren dengan lainnya karena memiliki keimanan amal dan keihlasnan dalam hidup dan bertindak. Apabila, lulusan Ponpes sama saja dengan non pesntren maka selama mengeyam pendidikan di Ponpes tidak dilakukan secara maksimal.

“Lulusan pesantren tentu beda dengan non pesantren. Ketika lulus, rerata lulusan pesantren memiliki karakter yang berbeda dengan anak-anak yang tidak mondok,” tukasnya. (adi /*)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *