Jalan PU Sarang PKL Liar Milik Oknum, Camat Citeureup Lepas Tangan

CITEUREUP-

Pihak Kecamatan Citeureup terkesan lepas tangan mengeni masalah Jalan Raya Ruas lingkar Pasar Citeureup atau Pu (Fisabilillah) yang dijadikan lapak ratusan Pedagang Kaki Lima (PKL) liar yang diduga dikuasai oleh para oknum untuk mengambil Pungutan Liar (Pungli).

Hal tersebut seperti penjelasan dari
Camat Citeureup Asep Mulyana malah menjelaskan, dari dulu jalan itu berfungsi sebagai jalan atau tidak dan yang namanya jalan. Ada pengelolaan serta Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang bertanggung jawab. Sehingga
instansi Pemkab Bogor terkait yang mana, harus bertanggung jawab mengenai masalah tersebut.

“Maka saya tanya lagi jalan itu sekarang berfungsi ga, jangankan dari dulu deh, malah sebelum atau dua bulan kemarin,” kilahnya saat ditemui bogorOnline.com di kantornya Senin (11/2/19).

Sebelumnya, Ketua Generasi Muda Kesatuan Penerus Perjuangan Republik Indonesia (Garuda KPP RI) Reza Sang Ardya mengatakan, permasalahan Jalan Raya Ruas lingkar Pasar Citeureup atau Pu (Fisabilillah) yang dijadikan lapak ratusan Pedagang Kaki Lima (PKL) liar dan dikuasai oleh para oknum untuk mengambil Pungutan Liar (Pungli). Hal itu manjadi tantangan Bupati Bogor yang baru, melalui program Pancakarsa, guna mengatasi permasalah di atas secara mudah. Amat lah miris masih ia menjelaskan, jalan yang sudah dibangun dari uang rakyat tidak bisa digunakan sebagaimana fungsinya dan mengurai kemacetan. Malah disalah gunakan oleh oknum demi meraup keuntungan pribadi semata, sehingga menambah kesemrawutan wilayah tersebut.
“Ini harus segera dibenahi dan usut tuntas kasus tersebut. Apa bila ada oknum Pemerintah yang terbukti bermain dalam masalah itu harus dicopot dari jabatannya,” tegasnya saat dihubungi bogorOnline.com Kamis (7/2/19).

Dinas Perhubungan (Dishub) Pemkab Bogor melalui Kepala Bidang (Kabid)
Lalu Lintas Ahmad Wahyu Hidayat terkesan tutup mata. Atas persoalan Jalan Raya Ruas lingkar Pasar Citeureup atau Pu (Fisabilillah) yang dijadikan lapak ratusan Pedagang Kaki Lima (PKL) liar.
Maka kali ini Kepala Desa Citeureup, Kecamatan Citeureup Gugun Wiguna mengatakan, pihaknya sangat menyayangkan kondisi jalan tersebut yang sudah berubah menjadi lapak PKL bodong. Sedangkan fungsi sebenarnya jalan itu digunakan jalur Angkutan Kota (Angkot) dan jalan alternatif guna mengatasi kemacetan.

“Bukanya dijadikan sarang PKL seperti sekarang ini,” ujarnya saat dihubungi Wartawan melalui WhatsApp (WA) pribadinya Rabu (6/2/19).

Parah Jalan Raya Fisabilillah atau Jalan Raya Ruas lingkar Pasar Citeureup yang berlokasi di belakang Pasar Citeureup, Desa Citeureup, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor yang seharusnya bisa dilalui oleh kendaraan umum dan mengurangi kemacetan. Malah beralih fungsi menjadi ratusan lapak-lapak permanen Pedagang Kaki Lima (PKL) liar yang diduga dimiliki oknum.

Hasil pantauan bogorOnline.com di lokasi terlihat jelas jalan tersebut tidak lagi bisa digunakan untuk masyarakat kerena sudah beralih fungsinya menjadi tempat PKL bodong. Ditambah ada dugaan terjadinya masalah tersebut selama bertahun-tahun. Lantaran adanya dugaan, main mata sejumlah oknum. Sehingga keberadaan jalan yang ditutup dan dijadikan lapak tersebut dibiarkan begitu saja.

“Saya bayar sama pengelolanya Rp 8 juta dan bulananya 300 ribu. Habis gimana lagi, kalau tidak bayar kita ga boleh jualan,” ujar salah satu PKL kepada Wartawan di lokasi belum lama ini.
Sementara itu saat bogorOnline.com mencoba menanyakan kepada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait dalam hal ini Kepala Bidang (Kabid)
Lalu Lintas pada Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bogor Ahmad Wahyu Hidayat terkesan tutup mata melihat kondisi jalan yang jadi sarang PKL liar itu. Dengan mengatakan, pihaknya sudah pusing terkait jalan Fisabilillah yang berubah jadi lapak PKL dan tidak bisa bicara banyak mengenai permasalahan tersebut.

“Itu jalan kabupaten harusnya seteril dari pedagang,” katanya saat dihubungi bogorOnline.com Senin (4/2/19).(rul)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *