Dampak Proyek Jalan di Tenjo Meluas, Pemborong Kena Tegur

TENJO – bogorOnline.com

Polemik dampak polusi proyek pembangunan infrastruktur jalan, di Jl. raya Manunggal XIX Desa Babakan Kecamatan Tenjo meluas. Pasalnya, masyarakat Desa Cilaku juga mengeluh adanya proyek pengerjaan jalan tersebut yang berdampak pada rusaknya jalan di wilayah tersebut.

Dari pengamatan bogoronline.com, kerusakan jalan Babakan Cilaku Desa Cilaku, adanya penutupan jalan pelaksaan pengerjaan proyek jalan raya Manunggal Desa Babakan yang sedang berjalan, sehingga jalan tersebut banyak dilalui kendaraan besar.

Kerusakan jalan itu juga menjadi pembahasan dalam musyawarah warga di dua Desa dengan pemborong proyek serta Pjs kepala Desa Cilaku, kepala Desa Babakan yang difasilitasi Camat Tenjo Asnan, dihadiri kepala UPT jalan dan jembatan Jasinga No Vll Kabupaten Bogor Endang Sutisna di aula kantor Kecamatan Tenjo, Selasa (17/9/19).

Kepala Desa Babakan, Suwardi Wadin, mengatakan, hasil musyawarah setuju tidak setuju yaa setuju, kalau sudah begini mau bagaimana lagi. Yang penting, pemborong proyek harus bisa menepati sesuai kesepakatan.

Bukan kita mau menghalangi program pembangunan infrastruktur jalan oleh Pemerintah, tapi pemborong juga harus betul-betul epektif dan sesuai dengan yang ada, jangan sampai ada hal yang kurang teknis, kalau pengerjaannya lambat akan berdampak pada masyarakat.

“Dari pihak pemborong juga tidak ada pemberitauan sebelumnya, dengan hal-hal teknis, sehingga kami tidak tau mengenai pengerjaan tersebut,” ungkap Wadin.

Wadin menambahkan, harusnya pengerjaan jalan seperti biasanya, jangan karena adanya pembangunan bisa mengganggu pengguna jalan, karena jalan ini bukan hanya milik orang Babakan, semua pengguna jalan berhak.

“Untuk itu, dalam memperlancar penggunajalan harus ada pemberi tahuan dan harus ada orang yang mengatur sehingga tidak ada yang tersesat,” tegasnya.

Terkait itu, kepala UPT Jalan dan Jembatan Jasinga, Endang Sutisna, mengatakan, pihaknya akan melaporkan hasil musyawarah, terkait keluhan dari masyarakat dampak sosial pengerjaan jalan itu.

“Akan saya laporkan ke PPK Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Kabupaten Bogor yang akan menegur kepihak pemborong melalui PKK DPUPR secara tertulis,” kata Endang.

Endang melanjutkan, persoalan pemborong dengan pihak masyarakat ini bisa diselesaikan oleh DPUPR.

“Secara langsung, tadi juga sudah saya tegur pihak pelaksana proyek untuk melakukan percepatan pengerjaan dan perbaikan jalan Desa yang rusak, serta melakukan penyiraman adanya debu,” tegasnya.

Sementara Ayung dari pihak pemborong mengaku dirinya akan tanggung jawab adanya keluhan masyarakat dengan malakukan pertanggungjawaban berupa material untuk jalan yang rusak di Desa Cilaku itu.

“Kita sanggup, kalau memang tadinya jalan bagus, kita perbaiki kembali dengan mengirimkan material,” kata Ayung.

Ayung menjelaskan, terkait rencana pembangunan infrastruktur jalan, karena jaraknya jauh. Kalau Serpong itu jaraknya jauh kan lumayan kesini tidak pada sanggup karena mereka memiliki ukuran selam 2, selam yang diatas 8 atau 10 mungkin dia sanggup.

“Permasalahannya selam bisa bahan coran itu bisa kering, dan kemarin saja dua mobil saya kembalikan itu kekeringan. Coran berbahan dasar FS45 kekuatannya tiga hari, dan selam 7-2, dengan panjang 1,600 meter. Permasalahan didesa Cilaku itu ada oknum, kalau sudah begini ya perusahan lagi,” bebernya.

“Sekarang saya tidak akan lari, saya akan bertanggung jawab dalam arti berbentuk material. Kalau debu itu karna kekeringan saja, jadi kering itu kalau lantai pasti ngebul, karna cuaca, faktor panas,” imbuhnya. (Mul)