by

Asymmetric Warfare, Perang Tanpa Bau Mesiu

Oleh : Kurniawan Nata Dipura

editor : Saeful Ramadhan

Dalam sejumlah kajian, perang gaya baru tersebut dinamakan asymmetric warfare atau perang asimetris. Perang asimetris ini memang tidak menimbulkan bau mesiu, tidak melibatkan senapan namun dampaknya lebih mengerikan dari serangan bom atom. Inilah yang menjadi nilai lebih dari perang asimetris, membutuhkan dana yang tidak begitu banyak namun efektif mencapai tujuan.

Perang asimetris merupakan peperangan yang melibatkan dua aktor atau lebih melalui medan tempur yang luas yang mencakup trigatra (geografi, demografi, dan SDA) dan pancagatra (ideologi, ekonomi politik, sosial budaya, dan hankam).

Pola perang asimetris ini adalah dengan menerapkan ITS (Isu, Tema, dan Skema). Untuk menyebarkan isu, para negara imperialis biasanya menggunakan LSM, personal, atau lembaga bentukan sendiri. Sedangkan untuk mengangkat tema, akan ada media massa, LSM, media sosial dan lain-lain yang ikut bermain. Pada tahap akhir, skema dipasang oleh pihak-pihak yang mengendalikan kebijakan negara. Pihak-pihak inilah yang disebut sebagai komprador atau orang yang menghancurkan bangsanya sendiri dengan berbagai pembenaran..

Perang asimetris kemudian berkembang menjadi perang hibrida. Perang hibrida adalah perang yang mengkombinasikan teknik perang konvensional, perang asimetris, perang proxy, perang informasi dan lain-lain demi kemenangan atas pihak lawan. Perang proxy adalah konfrontasi antara dua negara atau dua kekuasaan besar dengan menggunakan pemain pengganti guna menghindari konfrontasi secara langsung.

Mari kita memahami akar dari konflik-konflik yang muncul pada media belakangan ini. Kita menjadi sadar bahwa isu-isu sensitif diletupkan supaya negara-negara imperialis bisa bebas mengeruk sumber daya alam Indonesia yang melimpah ruah.

Kesadaran inilah yang semestinya disebarluaskan supaya publik tidak terlena oleh kegaduhan superfisial namun malah melalaikan keberadaan para penjajah yang berusaha menjarah milik kita.

Semakin banyak orang yang menyadari pola perang asimetris di Indonesia, semakin banyak pula orang yang mampu menyikapi konflik lebih cerdas dan tidak mudah dibenturkan oleh isu SARA atau sektarian. Bahkan tidak menutup kemungkinan, mereka akan membuat upaya-upaya preventif demi melindungi kekayaan bangsa ini. Sehingga Indonesia tak akan menjadi penonton saja namun juga aktif menangkal perang asimetris.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed