by

Pekan Depan Test PCR Bisa di Labkesda, Antrian Masih Tetap Lama

BOGORONLINE.COM, CIBINONG – Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor memastikan akan memfungsikan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda), di Jalan KSR Dadi Kusmayadi, Komplek Pemda Kabupaten Bogor menjadi laboratorium uji Polymerase Chain Reaction (PCR), mulai pekan depan. Langkah ini diambil untuk mempercepat uji sampel swab test yang jumlahnya sudah mencapai ribuan spesimen.

“Insya Allah, minggu depan (Labkesda) sudah bisa digunakan. Itupun kapasitasnya hanya 96 VTM perhari. Dengan ribuan yang diperiksa bisa terbayangkan antriannya pasti lama,” ujar Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor,  Achmad Zaenudin, drg. MARS, kepada bogoronline.com, Sabtu (3/10/2020).

Sejak awal pandemi covid-19, Labkesda di bawah naungan Dinkes Kabupaten hanya menjadi tempat transit spesimen swab test yang telah disimpan di dalam Virus Transport Media (VTM). VTM kemudian di rujuk untuk tes PCR ke Laboratorium Litbangkes, Balai Teknis Kesehatan Lingkungan (BTKL), di Jakarta, dan Laboratorium Institut Pertanian Bogor. Tiga laboratorium tersebut juga menjadi rujukan daerah lain yakni Kota Depok, Bekasi, dan termasuk Kota Bogor. Akibatnya, terjadi delay pengiriman. VTM berisi sampel air liur dan tenggorokan warga Kabupaten Bogor sempat menumpuk di Labkesda Kabupaten Bogor.

Baca juga : Empat Alat Test PCR Nganggur

Belum digunakannya Labkesda untuk uji PCR, menurut dr. Zain, karena ada standar yang harus dipenuhi dari mulai ketersedian hardware, software, ruangan, dan SDM analis. “Alat PCR yang ada tidak serta merta bisa digunakan. Softwarenya harus ngelink dengan Kemenkes,” imbuhnya.

Menurut dr. Zain, selain kesiapan hardware dan software, pengoperasian alat test PCR juga membutuhkan persiapan ruang untuk mencapai keabsahan mutu data hasil pengujian, dan melindungi personil laboratorium dari bahaya bahan kimia, kebakaran, serta bahaya lain yang timbul.

“Ruangan harus dipersiapkan, antara lain harus ada ruang antara (pemisah) yang efektif antar ruangan,” katanya. Ruang antara ini dimaksudkan untuk menghindari adanya kontaminasi silang atau ganggungan dari kegiatan ruangan lain.

Persoalan lainnya juga soal ketersedian tenaga analis yang memenuhi standar kompetensi untuk melakukan uji spesimen. Dinkes, rencananya akan menambahkan 16 orang tenaga analis di Labkesda. Dengan jumlah ini nantinya diharapkan Labkesda bisa beroperasi dua shift. “Rencana ada penambahan 16 orang. Mudah-mudahan tersedia SDMnya, supaya bisa minimal dua shift” kata dia.

Saat ini, alat test uji PCR yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Bogor jumlahnya sebanyak 6 unit. Namun, Dinkes baru mengaktifkan 2 unit saja, yakni alat test PCR di RSUD Cibinong dan RSUD Ciawi. Sementara, 4 alat lainnya, tersimpan di Labkesda sebanyak 2 unit, dan 2 unit lagi masing-masing ada di RSUD Leuwiliang dan RSUD Cileungsi.

Menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinkes Kabupaten Bogor, Dedi Syarif alat test PCR yang ada di RSUD Cibinong dan RSUD Ciawi kapasitas masing-masing alat di RSUD tersebut hanya bisa menguji 50 spesimen perhari. Sementara di RSUD Cileungsi dan RSUD Leuwiliang belum tergister di Kemenkes. “Sedang diproses, tapi sebenarnya sudah running untuk internal RSUD (pasien dalam perawatan),” katanya. Laboratorium RSUD Cileungsi dan RSUD Leuwiliang masing-masing hanya mempu menguji 8 spesimen per hari.

Dinkes juga akan meningkatkan kapasitas laboratorium RSUD Cibinong dengan mengoperasikan alat test PCR bantuan dari BNPB yang mampu menguji 200 spesimen per hari. Dengan demikian Kabupaten Bogor memiliki 7 unit alat test PCR untuk mempercepat pengujian sampel swab test.

Jawa Barat Disorot WHO

Data World Health Organization (WHO) yang dirilis 30 September 2020, menyebut angka konfirmasi positif covid-19 di Jawa Barat meningkat tajam pada lima minggu terakhir dan belum menunjukan angka penurunan. WHO merujuk 9 Provinsi di Indonesia menjadi prioritas nasional untuk tracing assessment penyebaran Covid-19. Jawa Barat masuk kategori kelompok pertama bersama DKI Jakarta, dan Jawa Tengah.

Sementara, sampai hari Kamis (1/10) Satgas Covid-19 Kabupaten Bogor baru mampu melakukan tes PCR sebanyak 14.841 spesimen. Jumlah ini masih jauh dari standar WHO 1/1000 penduduk atau 60.000 spesimen untuk Kabupaten Bogor. Standar 1 persen jumlah penduduk yang ditetapkan WHO sebenarnya harus sudah tercapai di masa awal pandemi untuk mengetahui positivity rate (rasio penyebaran).

Adapun saat ini, WHO merujuk Tes PCR untuk mengetahui posivity rate  minimal 5 persen dari jumlah penduduk. Tracing, untuk mengetahui sebaran minimal skor di bawah 12 persen, dan ketersediaan tempat tidur/ruang rawat inap WHO merujuk minimal 60 persen.

Satgas Covid-19 Kabupaten Bogor, merilis update terbaru Sabtu, (3/10/2020). Saat ini total kasus positif covid-19 di Kabupaten Bogor sudah mencapai 1.916 orang dengan rincian suspek 402 orang, probable 52 orang, dan 1.251 orang sembuh. Jumlah konfirmasi aktif 610 orang, 56 orang terkonfirmasi meninggal dunia, dan 204 orang meninggal masih menunggu konfirmasi hasil swab test. Dari 40 kecamatan, 34 kecamatan masuk kategori zona merah, sisanya 6 kecamatan kategori zona orange. Satgas belum merilis rasio keterisian jumlah tempat tidur/ruang rawat inap rumah sakit untuk menampung pasien covid-19. (*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed