bogorOnline.com-JONGGOL
Bahan bakar berbasis jerami yang dikembangkan Bobibos terbentur regulasi, membuat realisasi produksi di dalam negeri belum dapat dilakukan.
Hal tersebut disampaikan Pembina Bobibos
Mulyadi mengatakan, dari sisi teknis, proses produksi telah siap, mulai dari ketersediaan bahan baku hingga mesin produksi. Secara teknis siap. Namun untuk produksi di Indonesia masih terkendala aturan, karena biohidrokarbon dari jerami belum memiliki payung regulasi.
Dengan begitu Bobibos telah menjalin kerja sama dengan Timor-Leste untuk pengembangan dan produksi tahap awal. Dalam kerja sama tersebut, pihak Timor-Leste menyiapkan fasilitas berupa gudang, pabrik, serta lahan dengan total luas sekitar 25.000 hektare, dengan tahap awal sekitar 5.700 hektare.
“Kapasitas produksi masih dibahas bersama, karena berkaitan dengan bahan baku, mesin, serta fasilitas produksi yang disiapkan di Timor-Leste,” ujarnya saat ditemui di Desa Jonggol, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor,” Jumat (26/12/25).
Sambung Kusdary Komisaris Inti Sinergi Formula menambahkan, bahan bakar berbasis jerami berbeda dengan kebijakan energi nasional yang saat ini fokus pada etanol dan biodiesel. Biodiesel berbahan sawit berpotensi berbenturan dengan kebutuhan pangan, sementara etanol menggunakan singkong, tebu, atau aren. Jerami berbeda karena merupakan limbah pertanian dan tidak mengganggu sektor lain.
“Kalau regulasinya sudah ada, tentu kami siap produksi di Indonesia. Namun jika belum, kerja sama dengan negara lain tetap berjalan,” katanya.(rul)





