Bogor – Star Energy Geothermal Salak, Ltd (SEGS) merupakan perusahaan pengembang energi panas bumi terbarukan yang berhubungan erat dengan konservasi alam dan kehidupan masyarakat.
Perusahaan yang berada di kawasan konservasi hutan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) ini menempati dua daerah, yakni Kabupaten Bogor dan Sukabumi.
Humas SEGS Iwan Azof menyebut, keberadaan SEGS di kawasan konservasi merupakan langkah konkret perusahaan dalam memanfaatkan panas bumi untuk disulap menjadi listrik.
Sebab, kata dia, pemanfaatan panas bumi itu tidak sama sekali mengganggu konservasi hutan TNGHS yang di dalamnya ada berbagai macam flora dan fauna.
“Enegi terbarukan ini, hanya menggunakan sedikit lahan, tidak berpengaruh pada air dan tahan di sekitar kawasan pengembangan panas bumi,” kata dia, Kamis 31 Agustus 2023.
Selain itu, pemanfaatan panas bumi juga dinilai memiliki emisi sangat rendah dibandingkan dengan pembangkit listrik lainnya. Sehingga, pengembangan Geothermal tersebut dinilai sangat perlu untuk keberlangsungan enegi di masa depan.
“Emisi udara Geothermal itu berada di angka 100, sementara pembangkit listrik lain di angka 400 ke atas, bahkan batu bara hampir mencapai 900 emisi udaranya,” ungkap dia.
“Sehingga, dengan emisi yang rendah itu, konservasi dan pengembangan panas bumi bisa berjalan berdampingan,” lanjut dia.
Senada, Act. Group Chief Power Plant Operations Officer Star Energy Geothermal (SEG) Suharsono Darmono menyampaikan bahwa keberadaan SEGS di kawasan konservasi tidak merubah keberadaan Satwa yang ada di dalamnya.
Teranyar, SEGS melakukan pelepasliaran Macan Tutul Jawa di Kawasan Operasional SEGS. Penetapan Area SEGS menjadi lokasi pelepasliaran ditentukan berdasarkan hasil kajian kesesuaian habitat oleh tim TNGHS karena area tersebut merupakan area dengan kesesuaian habibat yang tinggi bagi spesies Macan Tutul Jawa.
Menurut dia, lokasi operasional SEGS yang terletak berdampingan dengan TNGHS itu telah menjadi world class best practice untuk bagaimana operasional dari unit pembangkit geothermal dilakukan dengan standar lingkungan yang tinggi dan dengan dampak minimal terhadap biodiversitas lingkungan sekitar.
“Salah satu contoh nyata dari yang pelestarian lingkungan oleh SEGS adalah Prakarsa Lintasan Hijau atau Green Corridor Initiative. Inisiatif ini telah berkontribusi pada pelestarian indeks keanekaragaman hayati Shannon-Wiener di daerah sekitar operasional unit Salak,” papar dia.
Ia mencatat, SEGS secara konsisten mencetak skor di atas 3,8 dalam kurun 2018 hingga 2020. Bersama dengan para pemangku kepentingan lainnya, Green Corridor Initiative ini berkontribusi terhadap keberhasilan pelestarian populasi spesies langka.
“Dalam decade terakhir Owa Jawa dari 54 ekor pada tahun 2004 menjadi 61 ekor pada tahun 2013, Macan Tutul Jawa dari 6 ekor pada 2008 menjadi 18 ekor pada 2014, dan Elang Jawa dari 10 ekor pada 2008 menjadi 16 ekor pada 2011,” jelas dia.
Selain itu, di tahun 2021, Star Energy Geothermal meneruskan inisiatif-inisiatif dalam program Green Corridor Initiative ini, diantaranya adalah dengan melakukan penanaman pohon dan bibit pohon, konservasi Ikan Tor, melakukan konservasi 30 spesies Anggrek Dendrobium Aphyllum, konservasi 159 individu katak pohon (Treefrog) serta konservasi 75 ekor Kumbang Hutan.
“Kami berharap inisiatif-inisiatif yang telah kami lakukan dapat membantu mewujudkan kawasan TNGHS tetap Lestari,” papar dia.
Pengembangan Potensi Lokal
SEGS tidak hanya fokus pada pengembangan dan pelestarian kawasan konservasi TNGHS. Tapi juga berkontribusi pada pengembangan potensi alam yang ada di sekitar wilayah operasional.
Hal itu dirasakan langsung oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Bhakti Kencana, Desa Purwabakti, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor yang berada di ring 1 atau wilayah paling dekat dengan operasional SEGS.
Ketua Bumdes Bhakti Kencana, Herdiansyah alias Ayong, pihak Bumdes bekerjasama dengan SEGS untuk melakukan pengembangan agrowisata di wilayahnya.
SEGS, kata dia, berperan penting dalam agrowisata yang dikelola oleh para pengurus Bumdes. Sebab, SEGS membiayai pelatihan para pengurus Bumdes.
Menurutnya, kerja sama ini bukan kali pertama terjalin. Pasalnya, Bhakti Kencana merupakan satu dari enam Bumdes bentukan perusahaan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Salak pada tahun 2018.
“Bhakti Kencana bahkan sempat menerima bantuan berupa mesin pendingin biji kopi dan mesin pengupas kopi basah di tahun 2021, berkat perkembangannya yang melesat cepat dibanding lima Bumdes lain,” papar dia.
Ia menyebut, unit bisnis agrowisata terbaru yang dikembangkan Bumdes Bhakti Kencana adalah Terasering Cisalada. Didirikannya wisata tematik berbasis budaya itu berhasil membuat Desa Purwabakti menjadi tuan rumah Jambore Wisata Desa 2022 yang dilaksanakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor.
Terasering Cisalada menjadi motor baru penghasil keuntungan di sektor pariwisata bagi Bumdes Bhakti Kencana. Hingga kini, Bumdes tersebut tercatat memiliki 16 destinasi wisata yang pengelolaannya melibatkan masyarakat desa.
Bahkan, dari Terasering Cisalada itu membawa Desa Purwabakti menjadi 75 nominasi Desa Wista terbaik pada ajang Anugerah Desa Wisata (ADWI) 2023.
Bonus Produksi, Curahan Berkah untuk Desa
Sebagai tanggung jawab sosial, Star Energy Geothermal Salak, Ltd juga memberikan curahan berkah bagi sejumlah desa di dekat lokasi operasional SEGS.
Pasalnya seluruh desa di Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor mendapatkan Bonus Produksi untuk digunakan semaksimal mungkin oleh pemerintah desa untuk kepentingan masyarakat.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Bogor, Renaldi Yushab Fiansyah menyebutkan bahwa Bonus Produksi yang diberikan Star Energy Geothermal Salak, Ltd masuk dalam komponen pendapatan APBDes.
“Bonus Produksi itu merupakan salah satu komponen pendapatan APBDes yang bersumber dari SEGS,” kata Renaldi.
Renaldi menyebut, penggunaan dana Bonus Produksi dari perusahaan pemanfaat panas bumi itu bisa digunakan secara fleksibel, tidak seperti komponen pendapatan lainnya, Alokasi Dana Desa (ADD), DD (Dana Desa), dan BHPRD yang sudah diatur penggunanya.
“Desa ini fungsi menejerialnya harus ditingkatkan karena fungsi desa itu ditantang untuk bisa membaca kebutuhan masyarakat,” papar dia.
Pemkab Bogor, kata dia, sudah membuat rambu-rambu peraturan yang tidak begitu mengikat untuk Bonus Produksi itu. Sehingga, Desa bisa leluasa menggunakan dana tersebut untuk kepentingan masyarakat.
“Kita sudah buat rambu-rambu yang pedomani Kementerian ESDM tentang jumlah (dana), pedomani tentang prioritas di Desa yang memang di wilayahnya ada kegiatan eksplorasi SDA. Kemudian (program) yang tidak terlepas dari usulan atau kegiatan prioritas tingkat Kabupaten, misal stunting, berarti Bonus Produksi pun harus mendukung penurunan angka stunting di wilayahnya,” tutup dia.
Berikut jumlah Bonus Produksi yang didapatkan 15 Desa di Kecamatan Pamijahan :
1. Purwabakti: Rp469.700.889
2. Cibunian : Rp469.700.889
3. Ciasihan : Rp469.700.889
4. Ciasmara : Rp469.700.889
5. Cibitungwetan: Rp331.553.568
6. Gunungmenyan : Rp331.553.568
7. Gunung Bunder II : Rp331.553.568
8. Pasarean : Rp331.553.568
9. Cimayang : Rp331.553.568
10. Pamijahan : Rp331.553.568
12. Gunung Bunder I : Rp331.553.568
13. Cibitung Kulon : Rp331.553.568
14. Gunung Picung : Rp331.553.568
15. Gunung Sari : Rp331.553.568
Dari 15 Desa tersebut, total Bonus Produksi yang telah dibagi oleh Pemerintah Kabupaten Bogor untuk 15 Desa itu yakni sebanyak Rp5.525.892.802 . Empat Desa yang berbeda nilai Bonus Produksi nya, merupakan Desa yang berdekatan secara langsung dengan lokasi operasional SEGS. (Egi Abdul Mugni)





