Melangkah Konsisten: Transformasi Diri Tashal Hafizh, Atlet Karate Muda dan Mahasiswa Hukum

Headline, Sosok2.1K views

Setiap satu minggu memiliki agenda mengikuti pembelajaran di sekolah, latihan dan pertandingan bela diri, istirahat, serta kumpul dan bermain bersama orang terdekat. Begitulah aktivitas yang telah dijalankan selama sepuluh tahun terakhir oleh Tashal Hafizh, seorang atlet muda karate yang telah mengikuti banyak pertandingan dari berbagai tingkat.

Tashal Hafizh, yang biasa dipanggil Tashal atau Hafizh merupakan seorang atlet karate sekaligus mahasiswa semester 4, Fakultas Hukum angkatan 22 di Universitas Diponegoro. Hafizh lahir di Jakarta pada tanggal 23 Agustus 2004. Namun, ia tumbuh besar di Kota Bekasi, kota tempat ia memulai langkah awalnya menjadi seorang atlet karate.

Langkah Awal

Bungsu dari empat bersaudara ini memiliki hobi nonton film, bela diri, dan gym. Kemampuan bela diri pada Hafizh semata-mata tidak diturunkan dari keluarganya. Melainkan ia sebagai pencetus sejarah keluarganya yang terjun pada bidang bela diri.

“Wah, keren banget nih bela diri bisa untuk jaga diri dan prestasi ke depannya,” ucap Hafizh, seorang siswa SD kelas 3 saat melihat kumpulan orang sedang latihan bela diri pencak silat di perumahannya.

Ungkapan tersebut menjadi motivasi pertama yang membuatnya menjadi atlet bela diri sampai saat ini. Setelah hari itu, ia membujuk kedua orang tuanya untuk minta izin mengikuti bela diri pencak silat. Hafizh baru mendapatkan izin setelah orang tuanya bertemu langsung dengan seorang pelatih bela diri pencak silat. Namun, perihal “jodoh” berlaku juga pada Hafizh yang merasa tidak cocok dengan pencak silat.

Tak berhenti di situ saja, Hafizh sebagai siswa kelas 4 SD melanjutkan motivasinya dalam bela diri dengan mencoba ikut bela diri karate. Ternyata di bela diri karate ia mewujudkan motivasi pertamanya. Pada bela diri itu, Hafizh merasa nyaman pada proses latihan pukulan, menghafalkan gerakan, bahkan memiliki rasa kepuasaan sendiri saat berhasil meraih kenaikan sabuk karate.

Dari situlah ia mulai mendalami bidang bela diri karate. Walaupun di bangku Sekolah dasar ia pernah mengalami kekalahan pertamanya, Hafizh memutuskan untuk mulai kembali melanjutkan hobi bela dirinya menjadi sebuah prestasi saat SMP. Kejuaraan karate pertama yang Hafizh raih adalah juara 2 se-Kota Bekasi. Setelah ia mulai mengikuti banyak pertandingan karate dengan bimbingan pelatih klubnya dan dukungan keluarganya.

Perjalanan sebagai atlet karate yang telah mengikuti berbagai pertandingan, tentu saja Hafizh permah mengalami masa-masa sulit selain kekalahan. Seperti yang Hafizh alami saat kelas 3 SMP, ia merasakan kejenuhan dan kelelahan dalam berkarate. Beruntungnya Hafizh tetap diarahkan dan didukung oleh keluarganya untuk melanjutkan kemampuan dan prestasi bela diri karatenya. Sejak saat itu Hafizh memilih untuk melanjutkan perjalanan hidupnya di bela diri karate sampai tingkat pendidikan selanjutnya.

Sama seperti anak kecil pada umumnya, sejak SD Hafizh memiliki cita-cita ingin menjadi polisi. Hafizh mewujudkan cita-citanya tersebut dengan memulai langkah sederhana di SMA, antara lain dengan memilih jurusan IPA, update informasi terhadap pendaftaran Akpol, mengikuti latihan fisik, dan lainnya. Namun, dibalik langkah Hafizh, ia belum berhasil menjadi bagian dari Angkatan Polisi. Akhirnya, ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya pada jurusan Hukum, seperti jejak ayahnya. Hafizh mewujudkan keinginannya berkuliah di bidang hukum menggunakan kejuaraan karatenya, melalui jalur prestasi di universitasnya saat ini.

Berawal dari hobi, kini kemampuan karate Hafizh membawanya menjadi perwakilan kampus ternama di Indonesia, dalam berbagai pertandingan bergengsi bela diri karate. Selain sebuah kebanggaan menjadi mahasiswa jalur prestasi, Hafizh memiliki rasa bersalah dalam dirinya. Rasa bersalah tersebut karena saat menuju hari pertandingan, ia akan fokus mengikuti latihan persiapan kejuaraan. Sehingga ia tidak dapat mengikuti kelas kuliah dengan full. Akibatnya ia akan ketinggalan materi pembelajaran di kelas.

Perubahan Konsisten

Pengalaman Hafizh mengikuti karate sebelum dan setelah berada Insitusi memberikan ia pemahaman terhadap keduanya. Pelatihan karate sebelum di Institusi dilakukan dengan teliti untuk meningkatkan kemampuan bela diri masing-masing individu. Sedangkan menurut Hafizh, pelatihan di Insititusi dilakukan dengan teliti dan meningkatkan kekuatan mental, karena pelatihan Institusi tidak hanya fokus kepada masing-masing individu, melainkan memiliki target pada prestasi kampus.

Hafizh mampu bertahan mengembangkan kemampuan karatenya, salah satunya karena ia bahagia dengan prestasi yang dihasilkan dengan usahanya sendiri. Ia merasa usahanya tersebut menghasilkan prestasi yang dapat bermanfaat bukan hanya untuk masa sekarang, melainkan juga untuk masa depannya.

Upaya mengembangkan kemampuan karatenya, selain dukungan dari orang sekitar, Hafizh dapat bertahan dan berjuang melawan rasa jenuhnya berkarate yaitu karena ia masih memiliki target yang ingin dicapai. Targetnya adalah Hafizh ingin bisa bergabung menjadi bagian dari Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas).

Walaupun Hafizh saat ini merupakan atlet karate berprestasi di kampusnya, ia tetap fokus pada kewajibannya sebagai seorang mahasiswa. Hafizh tetap menyelesaikan tugas yang diberikan dan memahami materi yang diberikan dengan belajar mandiri. Selain itu, tidak lupa ia tetap menjalankan hobinya sebagai bentuk healing dari rasa lelah dan stress.

Di balik keteguhannya di luar, Hafizh tetap merasakan kesulitan dari dalam dirinya. Seperti saat ia berada di tahap insecure terhadap diri sendiri dan mendapatkan kekalahan. Pada tahap tersebut Hafizh memilih untuk evaluasi diri, bersyukur, dan latihan untuk mengembangkan kemampuannya. Tentu perjalanannya setelah sepuluh tahun terjun pada bela diri karate sangat membawa perubahan pada sosok Hafizh saat ini.

Perubahan pada dirinya antara lain ia kemampuan yang semakin meningkat, bahkan ia mampu memberikan kejuaraan untuk dirinya dan orang lain, serta lebih bersyukur atas segala hal yang terjadi. Sedangkan pada perubahan secara personal, Hafizh menjadi lebih disiplin, berpikir kritis, memiliki mental dan fisik yang lebih kuat, serta meningkatnya rasa empati, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Perubahannya Hafizh sampai saat ini tidak jauh dari pesan-pesan yang disampaikan oleh orang-orang terdekatnya.

“Apapun hal yang belum pernah dicoba, kalau tidak dicoba kamu akan nyesel,” pesan memorable yang diingat oleh Hafizh dari seorang satpam Fakultas Hukum kampusnya.

Serta pesan yang sangat Hafizh ingat dari orang tuanya “Menang atau kalah, namanya juga kompetisi.”

Di balik perjuangannya, Hafizh masih memiliki mimpi yang ingin diwujudkan. Ia berharap suatu hari bisa mengajari ilmu bela diri karate kepada anak-anak kecil dan membuka kelas bela diri. Hafizh telah membuktikan kepada kita semua, bahwa jika kamu mau sesuatu dan memilih untuk konsisten menjalankannya, maka kamu bisa mencapai mimpimu perlahan-perlahan.

Seperti pesan Hafizh untuk kita semua yang sedang berada di tahap pengembangan diri, “Ikutin aja kemauan bakat kamu dan terusin bakat-bakatmu. Jadikan itu sebagai prestasi dan buat hidupmu jadi lebih cerah, karena itu adalah prioritas dalam hidupmu.”

Oleh : Amirah Inas (Mahasiswi Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *