Pemkab Bogor Solid Tolak Sapi Impor

Cibinong – bogoronline.com – Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor Siti Farikah sepakat dengan DPRD untuk menolak masuknya sapi impor Australia ke Bogor. Itu disebabkan ketidaksiapan petani Kabupaten Bogor berupa kandang besi, lahan seluas 5 hektar untuk kesiapan rumput pakan sapi BX Australia, dan ketidaksiapan petani menangani perilaku sapi BX Australia yang agresif dan dianggap membahayakan petani.
“Kami sepakat untuk menolak masuknya bantuan dari Kementerian Pertanian berupa sapi BX Australia ke Bogor. Alasannya ketidaksiapan petani baik kandang, luasan lahan rumput pakan ternak seluas 5 hektar dan ketidakmampuan petani menangani sapi BX,” kata Farikah kepada wartawan, Rabu (14/3).
Menurut Farikah penolakan itu juga serentak dilakukan oleh Dinas Peternakan dan Perikanan se Jawa Barat. “Jadi tidak hanya Bogor yang menolak tapi semua kepala dinas Peternakan dan Pertanian se Jawa Barat juga menolak masuknya sapi impor,” tegas Farikah.
Sebelumnya Dirjen Peternakan Kementerian Pertanian memberi kesempatan kepada dinas peternakan untuk menyiapkan penerima bantuan sapi BX Australia sebanyak 16 kelompok. Setiap kelompok menerima 25 ekor sapi, 2 jantan dan sisanya betina produktif.
“Penolakan ini didasarkan atas pemeriksaan kesiapan petani dalam menerima sapi bantuan secara gratis itu dalam kurun waktu 2 bukan terakhir. Tim dari dinas telah memeriksa satu persatu kelompok tani yang diusulkan untuk menerima bantuan itu. Tapi ternyata tidak ada satu pun kelompok petani yang siap menerima bantuan,” ujar Farikah.
Farikah menambahkan sebelumnya di tahun 2015, Pemkab Bogor juga telah menolak bantuan sapi BX Australia. “Kalau bantuan sapi lokal pasti semua petani senang karena mereka punya pengalaman memelihara sapi lokal. Tapi kalau BX Australia yidak ada yang sanggup. Lagipula bantuan ini tidak termasuk pembangunan kandang sesuai karakter sapi BX Australia. Jadi Cuma bantuan sapinya saja tanpa bibit rumput gajah makanan sapi BX,” tandasnya.
Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Ade Ruhendi yang akrab disapa Jaro Ade menilai penolakan bantuan itu masuk akal karena karakter dan perilaku sapi BX Australia yang liar dan membahayakan.
“Saya ini anak petani jadi punya sapi, kambing dan ikan. Kalau sapinya seperti itu ya pasti tidak ada yang sanggup memeliharanya, kecuali sapi lokal,” ujarnya.
Namun demikian Jaro Ade dan Siti Farikah sepakat untuk mengajukan bantuan sapi lokal di anggaran perubahan tahun ini ke kementerian pertanian.
“Jadi nanti permohonan bantuan itu akan dimohonkan langsung melalu Bupati Bogor ke Kemtan. Kami berharap wakil rakyat Bogor yang ada di pusat dapat mengawal usulan kami ini agar bisa meningkatkan populasi sapi di Kabupaten Bogor yang saat ini hanya dimiliki para pengusaha penggemukan sapi impor. Petani Bogor harus maju dengan peternakan sapinya. Jadi tidak hanya menjadi konsumen daging terbesar di Jawa Barat, tapi juga menjadi produsen daging,” kata Jaro Ade.
Jaro Ade menambahkan program yang sudah digagas Anggota Komisi IV DPR RI Ichsan Firdaus terkait penyelamatan sapi Pasundan adalah terobosan yang patut diacungi jempol. “Ini menjadi salah satu solusi terhadap mimpi menjadikan Bogor sebagai produsen daging untuk memenuhi kebutuhan rakyat Bogor yang besar. Apalagi sapinya Pasundan yang asli berasal dari Jawa Barat. Saya berharap Kementerian Pertanian dapat menindaklanjuti program yang sudah dijalankan Kang Ichsan bersama pemerintah daerah Kabupaten Bogor,” tandasnya. (keating)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *