Di Jabar Sudah Tiga Kali Pertarungan Ala Gladiator Renggut Korban Jiwa

 

Bogoronline.com –

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merelease pertarungan pelajar ala gladiator di Jawa Barat. Sudah terjadi tiga kali wilayah tersebut. Yakni, di kota Bogor yang melibatkan siswa SMA yang menewaskan Hilarius,  di Sukabumi  yang melibatkan siswa SMP dan di Kabupaten Bogor yang melibatkan siswa SMP, dimana MRS sebagai korban.  Dari kasus-kasus tersebut,  KPAI bersama KEMDIKBUD RI turun bersama melakukan pengawasan langsung dan investigasi pada Selasa, 28/11/2017.

Saat menggali keterangan dari pihak sekolah terungkap, bahwa  Korban sebenarnya berinisial MRS (bukan ARS). Menurut, para guru dan teman-teman nya kepada KPAI.  “MRS adalah pribadi yang pendiam dan alim,  tetapi sangat penolong.  MRS adalah ketua kelas 9B di sekolahnya,  banyak rekan-rekan di sekolah yang menangis ketika mengetahui kematian tragis MRS,” ujar Retno Listyarti,  Komisioner KPAI Bidang Pendidikan.

MRS menurut keluarganya juga anak yang baik dan pandai mengaji. Bahkan kerap mengajari mengaji untuk anak-anak di sekitar tempat tinggal korban. Karena pandai mengaji,  korban dinilai oleh kawan-kawannya pandai ilmu kebal,  padahal tidak.  “Inilah yang membuat korban terlibat atau mungkin dilibatkan dalam  tarung tersebut,” terangnya.

Kata Retno, memang di kalangan masyarakat sekitar masih banyak yang mempercayai ilmu kekebalan tubuh tersebut,  karena secara geografis Rumpin berbatasan langsung dengan Banten.

Saat ini,  kasus dilimpahkan dari Polsek Rumpin ke Polres Kabupaten Bogor.  Menurut kepolisian,  saat ini terhadap kasus sudah dinaikkan menjadi penyelidikan dan satu pelaku sudah diamankan di Polres Kabupaten Bogor untuk pemeriksaan.  “KPAI akan memastikan penggunaan UU SPPA (Sistem Peradilan Pidana Anak) terhadap pelaku dalam kasus ini,” jelas Retno.

PERNYATAAN KPAI

1. KPAI menyampaikan keprihatinan dan duka mendalam terkait kasus gladiator yang kembali terjadi dan kembali memakan korban jiwa.  Meninggal sia-sia anak-anak kita. Keprihatinan inilah yang mendorong KPAI dan Kemdikbud RI memberikan perhatian besar dengan bersinergi melakukan pengawasan langsung ke Polsek Rumpin dan sekolah korban pada selasa, 28 November 2017.

2. KPAI mengapresiasi Polsek Rumpin dan Polres Kab.  Bogor atas kesigapan dalam melakukan pemeriksaan sebanyak 12 saksi,  memfasilitasi otopsi dan pemakaman korban pada sabtu,  25 November 2017 lalu.

3. Peristiwa tarung gladiator ini kemungkinan besar terjadi diantaranya  karena lemahnya pengawasan orang dewasa,  baik di sekolah,  di rumah maupun di masyarakat, mengingat kejadiannya sekitar pukul 16. 30 wib dan terjadi di lapangan,  temoat terbuka  Tarung semacam ini umumnya terjadi di luar sekolah dan di luar jam sekolah, sehingga pengawasan nya melibatkan orangtua dan masyarakat sekitar.

4. Harusnya orang tua memiliki kepekaan karena tarung semacam ini biasanya direncanakan jauh hari,  pasti ada perubahan perilaku anaknya.  Masyarakat jg seharusnya peka jika melihat ditempat umum ada lebih dari 10 anak berkumpul,  seharusnya dibubarkan atau segera lapor pihak berwenang,  seperti RT/RW atau kepolisian,  sehingga bisa dicegah.

“Jangan cuek terhadap fenomena seperti ini.  Sekolah,  dalam hal ini guru juga seharusnya memiliki kepekaan terhadap anak-anak yang berpotensi terlibat tarung semacam ini.  Karena keterlibatan siswa senior dan alumni sangat semakin dalam skenario tarung gladiator seperti ini.

5. Sistem persekolahan yang mengutamakan nilai dan akademik memang akan berpengaruh pada anak-anak tertentu yang butuh eksistensi. Kecerdasan itu bukan hanya akademik, “Namun di negeri ini kurang diakui kecerdasan lain seperti motorik kecerdasan dalam halnya. Olahraga dan seni.

6. Adu kekebalan yang diyakini oleh anak-anak tersebut adalah merupakan salah satu indikasi bahwa pendidikan kita tidak kritis dan analitis.  (Mul)

Comments