by

Idul Qurban Belajar Cinta dari Keluarga Ibrahim as.

Oleh : Yayat Supriyatna
Penulis Adalah Praktisi Pendikan Indonesia Tinggal di Kabupaten Bogor

Dalam sebuah sesi dialog dipelatihan guru, ada seorang guru muda memberikan pernyataan yang dalam dan menghujam: ”buat apa dan untuk apa mendidik dan mengajar kalau outputnya anak (peserta didik) tidak mencintai Allah SWT dan Allah SWT tidak mencintainya”. Ilmu dan pengetahuan itu pemberian Allah SWT, namun jika dengan ilmu dan pengetahuan itu tidak menghantarkan anak anak mengetahui, mengenali, mempercayai, meyakini dan sampai mencintai Allah SWT, maka pendidikan menjadi sebuah IRONI.

Pendidikan dalam Islam seharusnya diawali dari pengenalan secara mendalam akan sumber utama dan pertama darimana adanya ilmu dan pengetahuan. Maka pendidikan Tauhid / Aqidah menjadi landasan utama dalam membangun dan menumbuhkan ilmu dan pengetahuan lainnya. Dari sinilah seharusnya visi, misi dan orientasi pendidikan itu di bangun dan dibentangkan.

Pendidikan tidak mengenal ruang dan waktu, dimanapun dan kapanpun manusia bisa menyerap berbagai pengalaman dan kejadian yang bisa dipelajari dan ditarik benang merahnya (makna dan hikmah) untuk dijadikan bekal dalam menelusuri dan menjalani kehidupan ini. Penulis akan mengajak untuk melihat sejarah sebagai rahmat dan ibrah bagi yang berakal untuk menarik hikmah dan memberikan makna baru bagi kehidupan yang akan kita jalani kedepan. Sejarah yang penulis maksud adalah, kita akan belajar mencintai Allah SWT dari keluarga Ibrahim as. Ibrahim as sebagai guru Tauhid dan darinya kita harus belajar bagaimana bertauhid secara benar?

’Idul qurba secara etimologi diambil dari kata ’Id yang berarti, ”kembali” dan Qurban yang berasal dari kata qoruba, yaqrubu, qurban yang berarti, ”menghampirinya”, atau ”mendekati”.

Melalui perayaan ’Idul Qurban, Allah menyeru kepada manusia yang sering lupa atau tersesat untuk kembali kejalan-Nya, karena Allah adalah Subjek yang tentunya sangat tahu tentang sesuatu atau jalan yang lurus dan benar yang harus ditempuh manusia. Menghampiri dan mendekati Allah harus berani melalui jalan yang sukar, terjal dan mendaki.

Makna menghampiri dan mendekati Allah menemukan hikmahnya yang lebih besar dalam sejarah nabi IBRAHIM AS. Ibrahim, Isma’il dan Hajar tiga tokoh sejarah yang telah menjadi symbol bagaimana caranya untuk kembali menghampiri dan mendekati Allah SWT secara benar.

Ibrahim telah membuktikan cintanya pada Allah, ia meyakini Allah sebagai realitas subyektif yang memiliki hak prerogatif atas makhluknya. Keyakinan dan cintanya pada Allah melahirkan suatu asumsi ”tidak mungkin bagi Allah sebagai Maha Cinta akan menyengsarakannya” keyakinan ini ia buktikan tatkala Allah menyuruhnya menghijrahkan Hajar dan Isma’il untuk mendiami sebuah tempat yang tidak ramah, sunyi, sepi, dan menyeramkan. Ketika Ibrahim ditanya oleh Hajar, mengapa ia harus tinggal di tempat ini? Ibrahim tak sanggup menjawabnya, lalu Hajar berkata ”apakah ini perintah Allah?” Ibrahim hanya mengangguk sebagai jawabannya, kemudian Hajar berkata ”kalau ini perintah Allah, saya yakin Allah tidak mungkin menyengsarakan saya”.

Allah sebagai realitas subyektif berkehendak agar proses kaderisasi kenabian lebih strategis, baik pada aspek mentalitas, maupun pada aspek wilayah. Allah menyuruh Ibrahim untuk menghijrahkan Hajar dan Isma’il ke tempat yang cukup menantang. Kecintaan manusiawi Ibrahim harus tunduk pada mekanisme Ilahiyyah. Ibrahim lebih mencintai Allah daripada memanjakan Isma’il yang harus duduk dipangkuannya. Hajar istri solehah memainkan peran penting dalam membentuk watak dan perangai Isma’il.

Ibrahim, sebagai bapak atau pemimpin yang memilki keyakinan teguh dalam memegang visinya, ia berani menyingkirkan segala sesuatu yang dapat menjadikan hijab (penghalang) dalam mencintai Allah. Ketika Ismail dirasa telah menghalangi hubungan dia dengan Allah, ia pun berani mengurbankannya. Ibrahim telah memberikan teladan yang unik bagi Hajar, Isma’il dan kaum Muslimin dengan keikhlasannya dan kesabarannya. Ali Syari’ati seorang pemikir Revolusi Islam Iran secara puitis mengajak kaum Muslimin untuk memaknai kisah ini lebih dalam, ia katakan: jika Ibrahim berani mengurbankan Isma’il, siapa dan dimana Ismail kita? Isma’il kita adalah segala ”sesuatu” yang menghalangi untuk menghampiri dan mendekati Allah. Jika status sosial berupa jabatan dan kekayaan menjadikan kita takabur hingga lupa diri, jadikan ia Isma’ilmu, jika perniagaan, usaha atau bisnis yang membuat kita lalai dan lupa pada-Nya, jadikan ia Isma’ilmu, jika kemalasan, kejenuhan, ketakutan, dan keragu-raguan membelenggu kita, jadikan ia Isma’ilmu.

Hajar, seorang Ibu mulia dan tangguh, telah berhasil menjadi seorang designer sumber daya manusia. Watak keibuan yang cenderung manja, lemah dan cengeng tidak ada pada diri Hajar, ia sosok Ibu yang unik, otonom dan radikal, dari rahimnya lahir manusia mulia dan pilihan.

Isma’il, seorang anak yang memiliki kesabaran yang paripurna, ia rela menjadi tumbal yang harus dijadikan jalan atau tangga bagi Bapaknya dalam menggapai cinta Allah.

Syetan, dalam diri Ibrahim, Hajar, dan Isma’il terjadi tarik menarik antara energi positif (hanif) dengan energi negatif (syetan). Syetan menebar jaringnya pada manusia dengan membisikan keraguan, memperdaya manusia dengan khayalan, menebar kebencian dan permusuhan, menakut-nakuti dan menghalangi manusia. Jaring yang ditebar syetan sanggup dihalau oleh Ibrahim, Hajar dan Isma’il dan digantikan dengan jaring suci berupa keikhlasan dan kesabaran.

Keluarga Ibrahim dapar dijadikan prototif sebagai keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah yang unik dan otonom.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed