UPT Puskesmas Diminta Observasi Perilaku Masyarakat di Masa Pandemi

Headline942 views

CIBINONG – Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Dede Agung Priyatna meminta Kepala Puskesmas di seluruh wilayah Kabupaten Bogor melakukan observasi perilaku masyarakat terhadap protokol kesehatan di masa pandemi Covid 19. Hal ini perlu dilakukan untuk mengevaluasi efektifitas program edukasi dan sosialisasi yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor.

“Kami akan himpun indikator pengamatan di masyarakat tentunya melalui UPT Puskesmas di seluruh Wilayah Kabupaten Bogor,” ujarnya, Senin (6/10/2020).

Dede mengatakan, hasil evaluasi terhadap penanganan pandemi covid-19 di Kabupaten Bogor menunjukan kepatuhan masyarakat terhadap perilaku hidup sehat masih sangat kurang. Untuk itu, pihaknya akan memperkuat portal-portal komunikasi yang sudah ada sambil tetap mengevaluasi indikator pengamatan terhadap perilaku-perilaku positif di masyarakat.
“Untuk menyamakan pemahaman, kami mendefinisikan muatan promosi 5M dengan sebuah gerakan bersama oleh seluruh elemen masyarakat. Gerakan tersebut dalam bentuk: “GERAKAN SIGAP SEHAT ” melalui AKSI LIMA SAJA,” katanya.

Lima Sehat merupakan singkatan dari, PeduLI sesaMA untuk SAling JAga. Melalui gerakan ini, kata Dede, masyarakat diajak untuk saling mengingatkan protokol kesehatan di masa pandemi. “Lima Saja, yakni, menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak fisik, menghindari kerumunan, dan Menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh melalui aktifitas olahraga, istirahat cukup dan makan makanan gizi seimbang,” paparnya.

Baca Juga : Layanan Banyak Kendala, Ini Instruksi Ade Yasin untuk Dinkes Kabupaten Bogor

Terkait kebijakan pencegahan dan pengendalian covid 19 ini, sambung Dede, langkah-langkah strategis prevensi yang dilakukan melalui upaya preventif dan promosi adalah meningkatkan sosialisasi, edukasi dan komunikasi resiko tentang covid ke masyarakat baik secara perseorangan maupun dalam komunitas atau kelompok masyarakat.

“Diharapkan adanya perubahan perilaku masyarakat untuk hidup bersih dan sehat atas dasar sebuah kesadaran dan pemahaman yang baik dalam memutus rantai penularan covid 19,” katanya.

Proses promosi ini, akan melibatkan seluruh elemen masyarakat melalui penguatan jejaring informasi : seluruh fasilitas kesehatan baik puskesmas, klinik maupun rumah sakit. Selain itu, organisasi profesi seperti IDI, IBI ,PPNI, dan kelompok potensial di masyarakat seperti PMI, Saka Bakti Pramuka, organisasi  PKK, kader kesehatan juga dilibatkan.

Informasi Hoax Jadi Kendala

Upaya ini, kata Dede, bukan tanpa kendala. Menurut dia, kendala yang paling besar karena banyak informasi di media sosial yang berisi konten kontraproduktifatau hoax yang cepat terakses oleh masyarakat.

Stigma sosial sebagai dampak dari pandemi ini menjadikan sebagian masyarakat menutup diri dan kurang terbuka dalam penerimaan informasi penting tentang covid. Sehingga menjadikan sikap acuh dan tidak peduli terhadap situasi pandemi ini. “Disamping faktor sosial, budaya, pendidikan yg melatarbelakangi kemudahan akses terhadap informasi,” katanya. (*)

ARTIKEL REKOMENDASI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *