Menanti Keadilan untuk Andri Maulida di PN Jakarta Timur

Jakarta, BogorOnline.com – Dalam dua pekan ke depan, Pengadilan Negeri Jakarta Timur akan menjatuhkan vonis kepada Ngadino dan Poniyem terdakwa pemberi keterangan palsu di bawah sumpah.

Pasalnya Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Jakarta Timur hanya menuntut enam bulan penjara terhadap keduanya.

Kartika Sari, Kuasa hukum dari korban bernama Andri Maulida mengatakan, tuntutan JPU terhadap terdakwa sangat jauh dari rasa keadilan.

Menurutnya, apa yang dilakukan terdakwa sudah merugikan kliennya yang bernama Andri Maulida. Dirinya berharap majelis hakim pengadilan negeri Jakarta Timur bisa melihat ini secara jernih dan menentukan keadilan untuk kedua belah pihak.

“Menurut saya, idealnya tuntutan 3,5 tahun, jangan cuma enam bulan,” ungkap dia.

Lebih lanjut Kartika mengatakan, apa yang telah dialami kliennya membekas terlalu dalam, mulai dari penghinaan, kemudian perlakuan kasar yang diterima.

Sementara itu Kasie Pidum Kejaksaan Negeri Jakarta Timur, Yanuar mengatakan pihaknya dalam melakukan tuntutan memperhatikan berbagai aspek.

Hal yang memberatkan terdakwa adalah menjatuhkan Marwah pengadilan. Kemudian hal yang meringankan adalah terdakwa baru satu kali melakukan perbuatan melawan hukum. Kemudian terdakwa berbohong dengan tujuan agar anaknya tidak bercerai dengan pelapor. Terdakwa sudah lansia dan tidak berbelit.

“Jadi atas dasar pertimbangan itulah kami menuntut enam bulan penjara, pasalnya terdakwa berbohong agar tidak terjadi perceraian,” ucapnya.

Lebih lanjut Yanuar mengatakan, jika melihat kasus serupa baik tuntutan maupun hukuman tidak ada yang melebihi satu tahun. Apalagi dalam tuntutan Jaksa meminta majelis hakim untuk segera menahan para terdakwa.

“Jika melihat hal tersebut, saya rasa tugas kami di penuntutan sudah sesuai jalur,” ucap Yanuar.

Sedangkan menurut Dody Zulfan, Kuasa Hukum Korban Kasi Pidum terlalu mengada-ada karena sudah jelas aturannya dalam Pasal 242 KUHP hukumannya 7 tahun penjara, seharusnya Jaksa berpihak pada Korban.

“Dengan tuntutan hanya 6 bulan terasa timpang sekali,” jelasnya.

Jika menurut Kasi Pidum Keterangan Palsu yang diberikan oleh Para Terdakwa adalah supaya tidak bercerai, maka analisa tersebut salah buktinya tetap diputus Perceraian secara verstek oleh Pengadilan Agama, karena sebenarnya Keterangan Palsu tersebut memang ditujukan untuk memuluskan jalannya persidangan tanpa adanya perlawanan dari korban yang diancam tidak boleh masuk dalam ruang sidang.

“Selama persidangan sebagai Terdakwa pun Poniyem masih berbelit mengaku lupa apakah pernah diangkat sumpah oleh Hakim Pengadilan Agama sebelum memberikan keterangan saat ditanya Majelis Hakim, sedangkan Terdakwa Ngadino dan Anaknya Saksi Santoso justru mengaku, lantas yang mana maksud dari Kasi Pidum Terdakwa tidak berbelit,” ungkap Dody.

Lebih lanjut Dody menambahkan Laporan ke Jamwas Kejagung RI sudah dilakukan jauh sebelum terjadinya persidangan.

“Sejak ditemukan adanya dugaan pelanggaran etik, yang mana perkara ini sangat sulit mencapai P-21 oleh Kejaksaan sebelumnya,” tegas Dody.

ARTIKEL REKOMENDASI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *