PT FS dan Ahli Waris Saling Klaim Kepemilikan Lahan

Gunung Putri- bogoronline.com – Saling klaim kepemilikan lahan antara PT. Ferry Sonneville (FS) dengan seorang warga di Desa Gunung Putri, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, disinyalir akan terus bergejolak. Pasalnya, kedua belah pihak tetap bersikukuh berhak atas lahan eks tanah garapan tersebut, dan tak takut jika harus dibuktikan di Pengadilan Negeri (PN).

Direktur PT. FS, Maman Daning ketika dihubungi wartawan melalui selulernya mengakui, jika perusahaan yang dipimpinnya itu sudah melakukan ganti rugi atas lahan pada pemiliknya. Hal tersebut sudah dilakukan sebelum pihaknya menjabat Direktur.

“Itu sudah kami bebaskan puluhan tahun lalu, ketika masih managemen lama. Atas dasar itu lah makanya status lahan tersebut sudah Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB),” kata Maman Daning, kemarin.

Maman Daning yang juga pernah menjadi salah satu kandidat Bupati Bogor pada Pilkada tahun 2008-2013 yang lalu juga menambahkan, pihaknya tak memungkiri bahwa sekarang SHGB atas lahan tersebut sudah mati alias habis masa berlakunya. Namun, hal tersebut bukan menjadi hambatan, karena status lahan ribuan meter tersebut sudah dipecah. “Sekarang tanah itu sudah bersertifikat kavling per kavling, karena memang sudah ada sebagian yang dijual,” tambahnya.

Namun, ketika ditanya apakah ada bukti pembayaran yang telah dilakukan PT. FS atas lahan yang diakui oleh warga Desa Gunung Putri itu, Maman Daning singkat bicara. “Maaf sekarang saya lagi di Surabaya, bukan di Bogor,” katanya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, tidak akan takut bila warga yang mengklaim lahan tersebut mengajukan gugatan ke pengadilan secara perdata. “Kalau warga itu tidak menggugat, kami yang akan melakukan gugatan nanti,” ungkapnya.

Sebelumnya, Andri anak dari pihak yang mengaku memiliki atas lahan yang terletak di RT 2 RW 14 Desa Gunung Putri, Kecamatan Gunung Putri, seluas 53.250 meter persegi (M2) itu mengatakan, pihaknya memiliki bukti-bukti kepemilikan surat hasil dari pembebasan dari para penggarap.

Orang tuanya, yakni Minang Surya telah memberikan kuasa kepada Sukarso pada tanggal 01 Oktober 1974 dalam pembebasan lahan nomor C.15 sampai dengan C.57 persil 163 di Desa Gunung Putri.

“Dari para penggarap karena tanah yang dimaksud merupakan tanah eks perkebunan sudah dibebaskan, dan kami memiliki bukti-bukti pembayaran. Tetapi setelah dimiliki oleh Minang Surya dan masuk dalam plotingan perumahan milik PT.FS, tanpa ada ganti rugi pembayaran kini diklaim kepemilikannya oleh PT.FS,” kata Andri.

Bukan hanya itu, Andri juga memiliki surat keterangan nomor 23/FS.KTGP/III/1995 dari PT.FS yang ditandatangani oleh Jenny Loah selaku Direktur Utama pada 09 Maret 1995. Dalam surat keterangan tersebut, dinyatakan bahwa PT.FS mengakui belum pernah melakukan pembayaran terhadap tanah seluas 53.250 meter persegi milik penggarap Sukarso yang masuk dalam sertifikat HGB nomor.1/Gunung Putri seluas 11,9 Hektar.

“Surat keterangan yang ditandatangani oleh Dirut PT.FS jelas menyatakan bahwa penggarap belum diberikan ganti rugi pembayaran,” tukasnya. (di)

Comments




Leave a Reply

Your email address will not be published.