Inilah Kartini Zaman Now di Mata Bima Arya

Ngojek Sehari Bersama Ade Gendis, Kartini dari Tajur

bogorOnline.com

Semarak peringatan Hari Kartini yang jatuh pada hari 21 April 2018, hari ini, menjadi refleksi bagi kehidupan gender perempuan di Indonesia. 21 April juga menjadi simbol emansipasi kaum perempuan untuk mendapatkan hak-hak yang sama dengan kaum pria. Bagaimana makna Kartini bagi Bima Arya?

Calon Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto, punya cara tersendiri dalam memperingati Hari Kartini, Sabtu (21/4/18). Selama seharian, Bima Arya terlihat menggunakan jasa ojek online dengan pengemudi wanita untuk menemani aktivitasnya ke sejumlah agenda.

Ade Gendis (38), warga Tajur, Bogor Timur yang telah satu tahun menjalani profesi sebagai driver ojek online, mendapatkan kesempatan untuk mengemudikan kendaraan roda duanya yang ditumpangi oleh walikota petahana Bima Arya.

Di mulai dari kawasan Bondongan, Bogor Selatan, Bima Arya dan Ade menelusuri jalan di tengah teriknya matahari siang itu menuju wilayah Pandu Raya, Bogor Utara. Selama perjalanan, Bima Arya tampak berbincang dengan Ade. Sesekali tawa pun pecah dari raut wajah keduanya. Bima Arya pun melakukan siaran langsung di sosial media Instagram untuk melakukan interaksi dengan warga bersama dirinya maupun dengan Ade yang Bima Arya sebuat sebagai sosok Kartini zaman now.

Usai mengantarkan Bima Arya ke sejumlah lokasi, Ade Gendis menyatakan bahwa dirinya sangat mengagumi keramahan dan kepemimpinan Bima Arya.

“Tadi perjalanan menyenagkan. Kang Bima tipe orang yang fleksibel, tidak kaku. Santai, enak bahas apapun enak,” ungkap Ade yang didampingi oleh ojek online wanita lainnya, Sandra Permata dan tergabung dalam Srikandi Go-Jek.

Ia menambahkan, momen tersebut dimanfaatkannya untuk berbincang seputar persoalan di Kota Bogor yang harus segera dituntaskan oleh Bima Arya pada periode berikutnya.

“Tadi ngobrol seputar PR yang harus diselesaikan. Kalau Kang Bima terpilih harus menyelsaikan PR yang ada, jangan sampai ganti orang, ganti kebijakan. Kebijakan yang sudah bagus sekarang, diteruskan. Kalau ada kekurangan di perbaiki. Jangan sampaai masyarakat bingung, yang ini kebijakannya begini, nanti ganti orang lalu kebijakannya beda lagi. Kalau menurut saya bagusnya Kang Bima dua periode,” tandasnya.

Tidak hanya membahas yang serius, Bima Arya juga menanyakan seputar pengalaman Ade yang sudah satahun menjalani profesi sebagai driver ojek online. Ia berharap, para wanita masa kini bisa terinspirasi dari sosok RA Kartini yang ingin para wanita meneruskan segala perjuangannya untuk menjadikan para wanita mendapatkan hak-hak semestinya.

“Hari Kartini bisa dijadikan momentum bahwa perempuan bisa bekerjasama dengan lelaki untuk membangun sesuatu yang bisa lebih baik lagi. Tapi tentu ada batasan yang harus kita pahami, seperti tidak melupakan kodratnya sebagai perempuan,” jelasnya.

Bima Arya juga sempat mengajak Ade Gendis dan Sandra Permata mengunjungi bangunan bersejarah, yakni SMA Negeri 9 Kota Bogor yang terletak di Jalan Kartini, Bogor Tengah. Bangunan tersebut ternyata memiliki riwayat tak terpisahkan dengan emansipasi wanita di Kota Bogor. Sekolah yang mulai dibangun pada 1914 itu, ternyata sekolah dasar (SD) pertama khusus perempuan di kota hujan ini yang didirikan atas dorongan spirit RA Kartini.

Bima Arya tampak terkesan dengan bangunan berusia lebih dari satu abad itu karena masih tampak kokoh, bahkan terawat.

“Memahami semangat kartini tidak boleh salah kaprah. Selain harus menyesuaikan dengan semangat zaman, juga harus memahami fitrah dari perempuan. Perempuan zaman now bagi saya adalah perempuan yang memiliki kekuatan kemandirian, disisi lain juga ada kordrat sebagai perempuan yang tidak boleh dihilangkan dan ada peran-peran sebagai perempuan yang memang mulia untuk terus diperjuangkan. Seperti, mendidik dan membesarkan anak. Jangan salah dipahami semangat RA Kartini ini menjadi semanagat yang terlalu kebablasan,” ungkap Bima Arya.

Keberpihakan dan kesetaraan terhadap hak-hak wanita juga Bima Arya tunjukan dengan menunjuka sejumlah pejabat perempuan dalam struktur perangkat kerja di periode pertamanya, sebut saja untuk posisi kepala dinas hingga lurah beberapa diantaranya diisi oleh perempuan.

“Ini bukan hanya soal kesetaraan melainkan kompetensi. Mereka memiliki itu. Komitmen saya untuk mendorong perempuan, saya ingin sosok-sosok ini menginspirasi perempuan lain. Tapi bukan sekedar keberpihakan tanpa obyektifitas, mereka adalah sosok-sosok mumpuni di bidang ini,” pungkasnya. (Nai/ist)

Comments